Opini & Artikel

ZUHUD DI TENGAH POPULARITAS: MEMBEDAH KESEDERHANAAN NARASI DISWAY

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Kamis, 05 Februari 2026 | Dibaca 23 kali
Gambar ZUHUD DI TENGAH POPULARITAS: MEMBEDAH KESEDERHANAAN NARASI DISWAY

Dalam dunia jurnalisme modern yang sering kali terjebak dalam hiruk-pukuk sensasi dan pemujaan terhadap materi, kolom Disway hadir sebagai anomali yang menyegarkan. Dahlan Iskan, dengan segala popularitas dan jejak kariernya yang mentereng, justru memilih jalan "sunyi" dalam diksi, yaitu kesederhanaan. Secara spiritual, fenomena ini menarik untuk dibedah melalui konsep zuhud. Seringkali kita salah mengartikan zuhud sebagai meninggalkan dunia secara total. Padahal, menurut para ulama, zuhud yang sejati adalah ketika dunia berada di tanganmu, namun tidak di hatimu.

Salah satu ciri utama Disway adalah gaya bahasa yang jauh dari kesan elitis. Meskipun membahas isu korporasi raksasa atau teknologi medis yang rumit, narasinya tetap membumi. Dalam Al-Qur'an, sikap ini selaras dengan prinsip rendah hati (Tawadhu):

"Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati..." (QS. Al-Furqan: 63).

Disway tidak menggunakan istilah-istilah langit untuk menunjukkan kecerdasan penulisnya. Sebaliknya, ia menyederhanakan yang rumit agar bisa dinikmati semua lapisan masyarakat. Inilah bentuk zuhud dalam intelektualitas, tidak merasa lebih tinggi hanya karena memiliki akses informasi yang lebih luas. Dahlan Iskan sering kali menulis tentang kegagalan, penyakit yang dideritanya, hingga sepatu kets yang usang. Di tengah budaya media sosial yang memuja pamer (riya), Disway justru menampilkan sisi rapuh kemanusiaan. Ini adalah cerminan dari sikap tidak terikat pada perhiasan dunia. Ketika seseorang sudah mencapai level zuhud, ia tidak lagi butuh pengakuan melalui simbol-simbol kemewahan. Ia lebih fokus pada substansi atau manfaat (Maslahah) dari apa yang ia tuliskan, daripada bagaimana orang memuja sosoknya.

Kesederhanaan narasi Disway juga terletak pada keberaniannya untuk jujur. Dalam Islam, zuhud berkaitan erat dengan keikhlasan. Menulis tanpa beban kepentingan politik atau pesanan membuat narasinya mengalir tanpa polesan kosmetik bahasa yang berlebihan. Setiap tulisan terasa seperti obrolan di teras rumah hangat, jujur dan apa adanya. Inilah yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai Qaulan Sadida, yakni perkataan yang benar, tepat dan tidak berbelit-belit.

Disway mengajarkan kita bahwa populer tidak harus berarti pamer. Menjadi tokoh besar tidak harus berarti menggunakan bahasa yang sulit dimengerti. Melalui kesederhanaan tulisannya, kita diingatkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa mentereng narasi yang ia bangun, melainkan oleh seberapa besar manfaat dan kejujuran yang ia bagikan. Dahlan Iskan melalui Disway telah mempraktikkan "jurnalisme zuhud": sebuah cara berkomunikasi yang meletakkan ego di bawah kepentingan pembaca dan meletakkan dunia hanya sebagai sarana untuk berbagi hikmah, bukan tujuan akhir.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.