Opini & Artikel

WAKTU YANG TERAKHIR

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Selasa, 02 Desember 2025 | Dibaca 5 kali
Gambar WAKTU YANG TERAKHIR

"Waktu Terakhir" adalah konsep yang, ironisnya memberikan makna paling kuat pada waktu yang telah kita lalui. Ini adalah momen pertarungan batin antara penyesalan atas masa lalu yang terbuang dan harapan akan masa depan yang abadi. Dalam konteks akhir kehidupan, waktu terakhir memaksa seseorang untuk melakukan audit atau evaluasi mendalam atas seluruh eksistensinya. Pertanyaan-pertanyaan fundamental muncul: "Apakah aku sudah hidup dengan baik?" dan "Apa warisan yang aku tinggalkan?"

Di waktu ini, segala topeng sosial dan ambisi duniawi akan luruh. Yang tersisa hanyalah kebenaran diri yang murni. Dalam banyak tradisi, ini adalah saat di mana jiwa paling rentan namun juga paling berpotensi mencapai pencerahan spiritual (seperti dalam Buddhisme atau Hindu). Dalam konteks pekerjaan atau proyek (deadline), waktu terakhir adalah penentu keberhasilan dan kegagalan. Bagi orang yang disiplin, ini adalah garis finish; bagi yang menunda, ini adalah krisis.

Kebiasaan menghadapi deadline sepele (pekerjaan) mencerminkan cara kita menghadapi deadline terbesar dalam hidup (kematian). Keduanya menuntut kita untuk mengelola waktu sebagai modal, bukan sekadar aliran. Waktu terakhir adalah peluang emas terakhir untuk bertaubat, meminta maaf, atau menuntaskan janji yang belum terpenuhi. Kesadaran akan batas ini seharusnya mendorong kita untuk tidak menunda-nunda kebaikan.

Kematian Bukan Akhir. Waktu terakhir (kematian) bukanlah peristiwa tunggal, melainkan penyelesaian dari proses kematian yang sudah dimulai sejak kita lahir. Setiap detik yang kita lalui membawa kita semakin dekat ke sana. Kesadaran bahwa "waktu terakhir" pasti datang, mengubah fokus hidup dari sekedar akumulasi (kekayaan, harta) menjadi kontribusi (makna, amal, kebaikan). Apa yang kita lakukan untuk orang lain dan untuk nilai-nilai luhur akan menjadi "usia sejarah" kita yang abadi, melampaui usia biologis yang terbatas.

"Waktu Terakhir" adalah guru terkeras dalam hidup. Ia mengajarkan kita bahwa waktu lebih berharga daripada uang, karena uang bisa didapat kembali, tetapi waktu yang berlalu tidak mungkin diulang. Filosofi yang paling berguna dari "waktu terakhir" adalah menjadikannya sebagai motivasi harian untuk memastikan bahwa setiap detik yang kita miliki saat ini adalah detik yang bermakna dan disyukuri.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.