Viral Bukan Berarti Bernilai
Globalisasi adalah zaman di mana perkembangan dan kemunduran bisa terjadi sekaligus, karena terlalu banyak hal yang memasuki kehidupan. Di mana terkadang, batas antara tanggung jawab maupun ekspresi mengabur.
Meski mungkin konten-konten semacam itu tidak lewat di algoritma kita, tetap saja kita bisa mengetahuinya dari mulut ke mulut. Berbagai konten serupa memang dikritik, dihina, atau bahkan diolok-olok oleh para netizen juga konten kreator lainnya. Tapi kenapa masih banyak konten sejenis itu terus bermunculan?
Karena banyak konten kreator yang mengutamakan viralitas di atas segalanya.
Tidak semua konten kreator memikirkan kualitas maupun dampak untuk audiensnya. Selama mereka bisa dikenal banyak orang, mungkin mereka bersedia melakukan apa saja, termasuk mempertaruhkan reputasi.
Viral lewat konten negatif bukanlah prestasi atau strategi, justru itu adalah jalan pintas bagi para konten kreator yang enggan berpikir dan berempati. Apapun alasannya— mulai dari merasa dirinya paling benar karena dijadikan tokoh inspiratif, haus validasi dan perhatian, hingga pengalihan isu, tidak pernah menjadi pengecualian untuk dimaklumi. Mereka hanya membuktikan bahwa diri mereka tidak cukup berkualitas untuk menjadi konten kreator.
Sosial media adalah sumber segala informasi maupun hiburan. Tergantung algoritma dari pengguna, sosial media bisa berfungsi memberi manfaat atau tidak. Tapi bagaimana pun, cara bersosial media diserahkan pada pengguna masing-masing.
Teruntuk para pengguna sosial media yang algoritmanya penuh dengan konten edukasi— pastikan tidak hanya kontennya, tapi juga konten kreatornya bisa dijadikan contoh. Manusia memang tidak luput dari kesalahan, karena itulah kritik dan saran dari kalian penting. Jangan terlalu membenci atau memuja siapapun di dunia sosial media yang rawan akan kebohongan.
Bukan hal yang salah jika algoritma sebagian orang hanya berisikan hiburan, mungkin mereka perlu pelarian atau tempat beristirahat sejenak dari dunia nyata yang melelahkan. Maka dari itu, pilihlah konten-konten hiburan yang memperbaiki suasana hati sungguhan. Bukan konten yang menormalisasikan hal-hal negatif. Jangan beri mereka panggung. Cukup abaikan dengan skip konten mereka, atau melaporkan akun mereka. Kalian berhak untuk tenang tanpa gangguan tidak berarti lainnya. Karena kesehatan mental berkaitan cukup erat dengan sosial media yang digunakan.