Transformasi Diri untuk Berubah atau Punah
Saya menyadari bahwa tidak ada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri. Demikianlah realitas kehidupan, berubah terus-menerus tanpa henti. Perubahan merupakan suatu realitas yang tidak dapat dicegah, bahkan segala sesuatu yang terkondisi, akan selalu mengalami perubahan. Membahas terkait perubahan, perubahan bukan hanya terjadi di luar diri seperti tahun, bulan, hari, jam, detik, pohon, alam sekitar, tapi perubahan yang sangat cepat juga terjadi di dalam diri manusia sendiri baik dari sisi fisik maupun mental. Dalam konteks perubahan zaman, para cendekiawan menyebut periode ini sebagai era disrupsi, di mana terjadi perubahan besar dan mendasar hampir di setiap bidang kehidupan. Perubahan disrupsi digambarkan sebagai perubahan yang menyerupai ledakan gunung, bukan perubahan seperti meniti anak tangga. Artinya, perubahan yang begitu cepat dan menyeluruh seperti mengganti ekosistem lama dengan ekosistem yang baru dan berbeda sama sekali.
Sebagai gambaran yang nyata, yang pernah saya alami adalah ketika melihat bagaimana Covid-19 telah meluluhlantakkan setiap orang. Dampak dari kejadian tersebut, maka banyak dari setiap orang takut untuk melangkah atau takut untuk mentransformasikan dirinya dalam melakukan aktivitas, tidak terkecuali saya pribadi pun juga ikut merasakannya. Namun, saya tidak berdiam diri, dan saya tidak ingin hidup saya punah begitu saja, meskipun melakukan perubahan sangatlah sulit. Saya menyadari bahwa saya harus self-love yaitu (mencintai diri sendiri), karena mencintai diri sendiri adalah komponen penting dalam kesejahteraan emosional dan mental, yang mana juga melibatkan menghargai, merawat, dan mencintai diri sendiri sebagaimana mestinya.
Dalam pandangan Islam, Al-Quran adalah sumber pedoman untuk berbagai aspek kehidupan, termasuk bagaimana kita dapat mengembangkan self-love. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 21 :
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنۡ خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا وَجَعَلَ بَيۡنَكُم مَّوَدَّةٗ وَرَحۡمَةًۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya :“Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah diciptakan-Nya untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu mendapat ketenangan hati dan dijadikan-Nya kasih dan sayang di antara kamu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir."
Sebelum kita dapat mencintai diri sendiri, kita harus memiliki kesadaran diri yang baik. Al-Quran mengajarkan pentingnya merenungkan penciptaan dan tujuan kita dalam hidup. Ini adalah pengingat bahwa kita diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan dan bahwa kita adalah makhluk yang berharga di mata Allah. Kesadaran diri yang positif adalah langkah pertama untuk menerapkan self-love. Ketika kita menerima diri kita sebagaimana adanya, kita dapat mulai mencintai diri sendiri. Umumnya ada dua cara menghadapi perubahan, yaitu kaget, pasrah, atau menyesuaikan diri. Dalam teori evolusi, makhluk yang dapat bertahan hidup, bukanlah makhluk yang paling kuat bertahan, melainkan makhluk yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan alam. Mau tidak mau manusia harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada walaupun terasa sulit, sebab yang tidak mau berubah akan tergilas oleh alam. Hal ini menggambarkan betul apa yang sering dikatakan oleh pepatah “berubah atau punah”.
Menurut hemat dan pengalaman saya, jika kita tidak memahami realitas kekinian, maka yang terjadi hanyalah ilusi. Jadi, Mau tidak mau kesadaran kekinian perlu dilatih, dilepaskan dari lamunan masa lalu dan proyeksi masa depan. Latihan kesadaran ini lazim disebut sebagai meditasi, yaitu sebuah upaya lembut untuk selalu hadir. Tidaklah mudah untuk berubah, seperti dalam buku Change (Rhenald Khasali : 2005 : xxxviii) dikatakan :”..untuk bergerak manusia harus diajak melihat dan memercayai bahwa sesuatu telah berubah..” , kadang berubah seolah kita berpindah dari Zona Nyaman “Comfort Zone” ke Zona Ketidaknyamanan “Discomfort Zone”. Dalam melakukan perubahan. tentu memerlukan kekuatan hati, naluri dan diri yang kadang melawan dengan alur hidup. Berubah akan terjadi dengan baik bila seseorang memiliki kelenturan hati dan beradaptasi dengan keadaan yang ada. Begitu sulitnya seni melenturkan hati, yang terkadang membuat banyak orang memilih tetap/statis dan membiarkan tua dengan sendirinya tanpa perubahan.
Sebagai hal yang nyata dalam kehidupan seorang muslim adalah bisa kita renungi dan teladani dari kehidupan Nabi Muhammad SAW. Hijrah beliau dilakukan demi pembaruan ,menjalani kehidupan yang lebih baik. dari Mekah ke Madinah, beliau melalui berbagai cobaan dalam menjalani proses hijrah tersebut. Bisa kita petik hikmah dan contoh dari proses ke arah perubahan itu. Hijrah bisa kita artikan melangkah ke arah perubahan yang lebih baik, baik dalam sikap kehidupan kita sehari-hari maupun dalam sikap bekerja kita guna kemajuan perkembangan lembaga ataupun karir kita. Hal yang menghantui saat ini adalah banyak orang yang memilih tidak berubah ke arah yang lebih baik.
Padahal Suka tidak suka, telah mengalami atau belum, perubahan adalah sebuah keniscayaan. Hal yang sangat tidak dapat kita hindarkan dalam kehidupan kita. Namun yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapi perubahan itu untuk dapat dihadapi dengan langkah-langkah yang positif dan penuh makna. Positif berarti kita ‘berpositif thinking’ terhadap apa yang terjadi, sehingga proses ke arah perubahan dapat terlewati dengan baik. Penuh makna berarti perubahan itu dapat kita maknai secara penuh dan ikhlas hati. Tanpa menyalahkan pihak manapun, kita mampu beradaptasi secara baik terhadap apa yang terjadi dan apa yang perlu kita sikapi.
Kondisi ‘Berubah’ atau ‘Diubah, seringkali dirasakan sebagai suatu kondisi yang tidak mudah dipahami dan dijalankan, terutama bila berubah atau diubah dihadapkan pada kondisi manusia yang resisten akan perubahan. Kondisi menjadikan diri seseorang sebagai ‘Stabilizer’ , akan semakin memperjelas sulitnya diri seseorang untuk merubah diri. Hal demikian pernah saya alami juga ketika saya mengalami keterpurukan dan kesalahan. Saya selalu bangkit dan selalu bangkit meskipun lelah untuk memperbaikinya. Namun dari semua itu, saya yakin secara positif dan penuh kesadaran diri, sehingga ketika perubahan yang terjadi kadang tak sesuai dengan harapan yang ada didalamnya, tidak menjadikan ‘frustasi’ tetapi sebuah kondisi yang harus dihadapi. Idealnya keinginan untuk selalu siap terhadap perubahan tertanam dalam diri secara baik. Tidak serta merta menganggap kondisi ‘berubah’ atau ‘diubah’ sebagai momok yang menakutkan dalam proses kehidupam.
Dalam menjalani hidup, tentunya tidak bisa hanya berdiam diri saja, kita harus bergerak dan melakukan perubahan. Manusia wajib berikhtiar untuk kehidupan yang lebih baik. Sebab Allah juga tidak akan mengubah kondisi hamba-Nya hingga ia berusaha merubah dirinya sendiri. Oleh sebab itu, selagi masih diberikan kesempatan hidup di dunia maka cepat-cepatlah berhijrah sebelum semua terlambat. Dalam Al-Qur’an kita disuruh untuk merubah diri menjadi lebih baik. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 53 :
ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ لَمۡ يَكُ مُغَيِّرٗا نِّعۡمَةً أَنۡعَمَهَا عَلَىٰ قَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡ وَأَنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٞ
Artinya : “ Demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Allah juga berfirman dalam QS. Ar-Ra’du ayat 11 :
لَهُۥ مُعَقِّبَٰتٞ مِّنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهِۦ يَحۡفَظُونَهُۥ مِنۡ أَمۡرِ ٱللَّهِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ وَإِذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِقَوۡمٖ سُوٓءٗا فَلَا مَرَدَّ لَهُۥۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِۦ مِن وَالٍ
Artinya : “ Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”
Mengutip dari kedua ayat mulia tersebut, maka mengandung beberapa kaidah penting dalam mengadakan perubahan, yaitu :
1. Perubahan merupakan hukum general yang meliputi semua jenis dan ras manusia, baik mukmin atau kafir. Hal itu ditunjukkan dengan kata قَوْمٌ yang berbentuk nakirah (indefinitif). Kata ini termasuk kata mutlak dan ia tetap bermakna mutlak selama Syari’ tidak membatasinya dengan suatu sifat seperti iman dan selainnya. Oleh karena itu, maknanya tetap mencakup setiap kelompok, organisasi, masyarakat, atau negara, tanpa memandang agamanya. Ia juga mencakup setiap ruang dan waktu. Hal itu karena lafazh tersebut mencakup setiap masyarakat di masa lalu, masa kini dan masa depan, sebagaimana ia mencakup setiap negara di dunia. Jadi, Allah telah menetapkan berbagai sunnah dalam kehidupan dan meletakkan faktor penyebab dan undang-undang di alam semesta dan kehidupan insani. Sunnah, faktor penyebab dan undang-undang ini menimbulkan akibat-akibatnya dan mendatangkan buahnya berdasarkan pengaruh dari Allah SWT. Allah telah menganjurkan umat manusia ini untuk mencari faktor penyebab, undang-undang dan hukum, supaya mereka dapat mengikuti petunjuknya dan berbuat menurutnya, agar mereka memperoleh buahnya. Allah menundukkan faktor penyebab, undang-undang dan hukum itu untuk kebahagiaan manusia dan untuk melayaninya di dunia. Bekerja adalah sarana untuk mencari rezki. Tidak ada yang bisa dilakukan manusia selain serius dan bersungguh-sungguh dalam mencari rezkinya dengan mengerahkan seluruh tenaga dan potensinya. Baik rezeki itu bersifat materi atau immateri, atau kedua-duanya. Petani membajak tanah dan menabur benih, kemudian ia menunggu rezeki dari Rabb. Seandainya ada seseorang berdiam diri di rumahnya tanpa mengerahkan tenaga sedikit pun untuk bercocok tanam, lalu ia mengira bahwa rezekinya akan datang dari pertanian, padahal ia tidak membajak, tidak menabur benih dan tidak memupuk tanah, maka dia akan kecewa dan tertinggal dari bahtera kehidupan insani. Bahkan ia dianggap berdosa karena menolak melakukan sebab, sunnah dan undang-undang. Demikian pula para diri ini yang mencita-citakan perubahan yang berharga untuk mencapai tujuan-tujuan yang dicanangkan.
2. Perubahan yang berdampak dan dituntut dalam konsep Islam adalah perubahan kolektif yang mencakup mayoritas lingkungan sosial, dan perubahan individu.
3. Perubahan itu ada kalanya positif dan ada kalanya negatif, karena perubahan itu berarti beralih dari satu kondisi ke kondisi lain dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dengan demikian, ada kalanya perubahan diri itu bersifat positif, yaitu perubahan dari jelek menjadi baik, atau dari baik menjadi lebih baik, sehingga hasilnya pun positif, dan ada kalanya perubahan itu bersifat negatif, dimana manusia mengubah diri dari lebih baik menjadi baik, sehingga hasilnya adalah baik dan terkadang manusia mengubah diri dari baik menjadi jelek, sehingga kondisi mereka menjadi jelek.
Jadi, seperti yang kita tahu, perubahan adalah peralihan dari satu kondisi ke kondisi lain, dari satu tatanan ke tatanan lain, dari satu sifat ke sifat lain, baik positif atau negatif. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, khilaf dan dosa. Begitu juga dengan diri penulis ini. Hal itu sangat wajar karena manusia punya hawa nafsu. Namun sebagai seorang mukmin, sudah seharusnya kita berusaha mengubah diri menjadi lebih baik. Bila berdosa maka harus bertaubat kepada Allah, bila tak mengerti akan suatu hal maka harus belajar, dan bila tak punya penghasilan maka harus berusaha. Ada beberapa tips cara merubah diri menjadi lebih baik, berdasarkan pengalaman pribadi penulis, yaitu :
1. Memiliki Tekad yang Kuat
Jika ingin merubah diri, pertama tentunya harus punya tekad yang kuat. Sebab segala hal itu bisa terjadi karena adanya kemauan. Bila tak ada kemauan maka semua keinginan hanya menjadi fatamorgana. Oleh sebab itu, awali perubahan dengan sebuah tekad sekuat baja. Yakinkan diri bisa mengatasi segala rintangan. Jangan menyerah dan percayalah bahwa kasih sayang Allah kepada hambaNya itu sangat luas. Apabila memiliki niat baik dengan tujuan mencari ridha Allah, maka jalan juga akan dipermudah.
2. Memperbaiki Niat
Tak sekedar tekad, juga harus memperbaiki niat. Perubahan yang diinginkan sebaiknya memiliki niatan baik. Tujuannya harus karena Allah. Sebab segala hal yang diawali dengan niat ikhlas lillahi ta’ala maka, Insya Allah hasilnya akan baik. Sebaliknya jika niat berubah dikarenakan manusia, jangan heran jika itu hanya berlangsung sementara. Saat dikecewakan maka diri akan hancur kembali. Oleh karena itu, hindari berharap berlebihan kepada manusia. Ingat, tak ada tempat bersandar kecuali Sang Maha Esa, Allah SWT.
3. Berusaha Lebih Ekstra
Untuk mewujudkan segala hal tentunya diperlukan usaha. Ingin kaya maka harus bekerja keras, ingin memperbaiki iman maka harus memperdalam ilmu agama, dan ingin berhenti merokok maka harus menghindarinya. Intinya perlu usaha! Harus ada action bukan sekedar wacana.
4. Jangan Bermalas-Malasan
Jika menghabiskan hidup hanya untuk bermalas-malasan, maka tidak akan mendapatkan apapun. Perlu kita ingat, bahwa malas termasuk temannya syaitan. Malas juga membuang-buang waktu tanpa arti. Oleh karena itu, jangan sampai terbuai oleh rasa malas. Lawan rasa malas, dan berusahalah menjadi pribadi yang bekerja keras.
5. Jangan Melupakan Ibadah
Poin yang sangat penting jika ingin berubah menjadi yang lebih baik, maka harus memperbanyak ibadah. Jangan sampai urusan duniawi melalaikan diri dari mengingat Allah. Jika ibadah sudah berantakan, maka efeknya sampai kapanpun tidak akan pernah menemukan kedamaian hidup. Beribadahlah secara khusyu’/tenang, sehingga mendapatkan kedamaian hidup dan ridho-Nya.
6. Mencari Motivasi
Biasanya sesuatu yang dilakukan terus-menerus tanpa henti bisa menimbulkan kejenuhan. Maka dari itu, perlu adanya motivasi. Motivasi dapat membangkitkan semangat dalam diri, sehingga bisa bekerja lebih rajin untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Memperoleh motivasi bisa melalui seminar, membaca buku, Membaca Al-Qur’an, Menonton video positif di Youtube, atau mengikuti perkumpulan tertentu yang punya visi dan misi serupa.
7. Istiqomah
Ketika sedang dalam perjalanan untuk merubah diri menjadi lebih baik, biasanya banyak godaan, bahkan dipandang sangat sulit/tidak mudah, maka untuk melawannya diperlukan istiqomah/komitmen yakni menguatkan kemantapan hati. Menjaga istiqomah tentu tidaklah mudah. Sebaiknya perbanyak berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah, sebab Dia-lah dzat yang membolak-balikan hati.
8. Optimis
Optimis berarti berprasangka baik kepada Allah. Percayalah bahwa apa yang ingin diusahakan tidak akan sia-sia. Walaupun itu tampak sulit dan mustahil, jika optimis, maka insyaAllah impian bisa terwujud. Memang tidak ada perjuangan yang mudah. Namun seseorang yang optimis maka dia bisa menyikapi proses yang sulit menjadi sesuatu untuk dinikmati. Sebaliknya, bagi orang-orang yang pesimis, biasanya mereka mudah gagal. Mereka tidak percaya sama Allah, tidak percaya dengan kemampuan dirinya sendiri. Dengan demikian hidupnya juga akan sulit berkembang.
9. Keluar dari Zona Nyaman
Untuk merubah diri menjadi lebih baik, tidak bisa terus-menerus berada di zona nyaman. Harus berani melangkah keluar dan mencoba hal-hal baru. Terlebih lagi jika zona yang ditempati selama ini buruk, maka wajib cepat-cepat berhijrah. Carilah lingkungan yang baik, dimana bisa berkumpul dengan orang-orang yang shaleh dan memiliki jiwa optimis. Sebuah tempat yang dapat mempermudah datangnya rezeki, serta mendatangkan kedamaian hati. Jangan takut untuk menghadapi hal-hal baru. Sebab sekalipun bersembunyi, perubahan itu yang akan datang menemui jati diri kita.
10. Berkumpul dengan Orang yang Baik
Terkadang memang cukup sulit jika harus merubah diri tanpa bantuan dari orang lain. Sebab sifat dasar manusia itu saling membutuhkan. Dalam artian tidak bisa hidup sendirian. Maka dari itu, carilah teman! Seorang teman yang bisa mengingatkan akan kebaikan. Mereka yang mengajak ke jalan kebenaran yakni jalannya Allah, dan mereka yang punya semangat kerja tinggi. Ingat ya, lingkungan punya pengaruh cukup besar terhadap karakter seseorang. Apabila hidup di lingkungan yang ‘bebas’, maka yang ditemui juga akan menjadi bebas. Bergaul sesuka hati tanpa memperdulikan batasan-batasan dalam agama. Begitupun jika berkumpul dengan pemalas, juga cenderung menjadi pemalas. Sebab itu, harus benar-benar menyeleksi teman. Bukan berarti membeda-bedakan. Namun carilah teman yang baik untuk membantu merubah diri menjadi lebih baik pula.
11. Jangan Mudah Menyerah
Selanjutnya untuk merubah diri menjadi lebih baik, tidak boleh mudah menyerah. Proses berhijrah itu sulit. Bahkan mungkin menimbulkan pertentangan baik dari dalam hati ataupun orang sekitar. Maka dari itu, harus kuat. Tidak apa-apa jika melakukannya secara perlahan. Asalkan jangan mundur ke belakang kembali. Percayalah bahwa Allah tidak akan membiarkan berjalan sendirian. Dia selalu ada di dekat kita. Hanya saja kita tidak bisa melihatnya. Allah itu Maha Menyayangi dan Mengasihi hamba-hambaNya. Jad,i tak perlu bersedih sebab selalu ada Allah yang membantu dalam setiap perjuangan.
12. Memperbanyak Rasa Bersyukur
Kita tidak bisa berubah jadi lebih baik jika masih sering mengeluh setiap hari. Maka itu, stop mengeluh ini itu! Baik itu tentang kondisi, penampilan fisik ataupun sebagainya. Berhenti membandingkan kehidupan diri kita dengan orang lain. Sadarilah bahwa masih banyak orang yang hidupnya lebih menderita dari kita. Oleh karenanya, harus memperbanyak rasa syukur. Manfaat bersyukur kepada Allah sangatlah luar biasa, beberapa diantaranya yakni dosa diampuni dan dilipatgandakann pahala. Dengan adanya fisik yang sempurna, kita masih bisa bekerja untuk mendapatkan uang, bisa beribadah dengan baik, dan bisa menikmati dunia ini dengan nyaman. Kalaupun kita punya kekurangan, percayalah bahwa Allah menyisipkan sesuatu yang istimewa dibalik itu. Bila kita sanggup bersabar dan menjaga syukur, kelak kita akan melihat keistimewaan tersebut di waktu yang tepat. Allah berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 7 :
وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ
Artinya : “ Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
Allah juga berfirman dalam QS. Luqman ayat 12 :
وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٞ
Artinya : “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”
13. Jadilah Pribadi yang Gemar Membantu Orang Lain
Poin yang satu ini juga tak kalah penting. Apabila ingin menjadi lebih baik, maka kita juga harus baik dengan orang lain. Perbanyaklah membantu orang yang kesusahan. Menolong tidak harus mengandalkan uang. Salah satu cara menolong paling mudah ialah lewat do’a. Apabila sering menolong orang lain, maka saat kita kesusahan orang lain akan membantu kita. Begitupun ketika kita mendo’akan orang lain. Malaikat juga mendoakan hal yang sama untuk kita. Jadi, intinya jangan bersikap egois. Sebab sebaik-baiknya orang itu yang bermanfaat bagi orang lain. Diriwayatkan dari Jabir berkata, Rasulullah SAW bersabda :
“Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni).
14. Bertaubat
Jika memiliki masa lalu yang buruk ataupun dosa, maka segeralah melakukan taubatan nasuha pada Allah dengan sebenar-benarnya taubat. Dengan bertaubat, maka Allah akan memaafkan dan memperbaiki jalan menuju kebenaran. Bahkan jika perlu sempatkanlah waktu untuk muhasabah hati di malam hari.
Mengubah perilaku selalu tergantung pada perubahan emosi. Berubah menjadi lebih baik, tentu tidak lepas dengan emosi yang terkait dengan emosi akhir. Begitu juga dalam mengubah pemikiran tentu tidaklah mudah. Perubahan adalah salah satu aspek kehidupan yang mustahil kita hindari, tetapi bukan berarti bahwa perubahan adalah sesuatu yang buruk. Saya sebagai penulis dalam kisah ini teringat akan perkataan seseorang yang bijak, yang pernah mengatakan “Agar bisa mengubah keadaan, Anda harus mengubah diri sendiri terlebih dahulu”. Jika ingin berhasil, gunakan kekuatan yang Anda miliki untuk berubah, walaupun usaha ini membutuhkan waktu dan dedikasi.
Ketahuilah, bahwa setiap perubahan akan bermakna jika bersumber dari dalam diri sendiri. Perubahan terkadang terasa menakutkan, tetapi cara mudah untuk berubah adalah dengan mencintai dan memercayai diri sendiri. Cara pandang positif terhadap kehidupan dan masa depan adalah hal terpenting dalam menentukan perubahan. Jangan menghukum diri sendiri atau merasa kecewa karena memiliki pikiran negatif, alih-alih gantilah dengan pikiran positif yang berlawanan. Jangan menilai atau merasa kecewa karena kesalahan.
Sejak kecil individu telah di pengaruhi dan di bentuk oleh berbagai pengalaman yang di jumpai dalam hubungannya dengan individu lain, terutama orang terdekat, maupun yang di dapatkan dalam peristiwa-peristiwa kehidupan, sejarah hidup individu dari masa lalu membuat dirinya memandang diri lebih baik atau lebih buruk dari kenyataan yang sebenarnya. Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang di bentuk melalui pengalaman-pengalaman yang di peroleh dari interaksi dengan lingkungan.
Berbicara konsep diri bukan merupakan faktor bawaan, melainkan berkembang dari pengalaman yang terus menerus melakukan perubahan walaupun tidak mudah, dan terdiferensiasi. Kemampuan memahami diri sendiri untuk berubah, berkembang sejalan dengan usia. Islam mengajarkan agar berpandangan positif terhadap diri walaupun terasa sulit untuk melakukannya, karena manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari makhluk yang lain. Jika kita sudah mengetahui kadar kemampuan diri kita, maka kita bisa memposisikan diri dengan tepat dalam berbagai kehidupan dan dalam bermasyarakat.
Pertanyaan yang muncul adalah, berapa banyak orang yang ragu dalam berubah?, berapa banyak orang yang berusaha merubah dirinya menjadi lebih baik?, dan berapa persen pula yang berhasil? Memotivasi diri sendiri untuk berubah agar berbuat yang terbaik dan berjuang maksimal merupakan langkah positif. Hanya saja perlu dicatat, perjuangan bukan mengubah yang buruk menjadi baik, tetapi merawat agar anugerah yang baik-baik dari Allah tak berubah menjadi buruk.
Pada hakikatnya perubahan dalam hidup ada 2 jenis, yaitu :
1. Attaghyiir Al-Ijbary, artinya perubahan yang memaksa kita untuk berubah. Maksudnya adalah kita mau berubah, ya kita berubah. Namun, jika kita tidak mau berubah, ya tetap berubah, seperti yang saya alami ketika adanya covid-19 yang telah mengubah perilaku sehari-hari.
2. Attaghyiir Al-Ikhtiyary, artinya perubahan yang direncanakan. Maksudnya adalah perubahan yang dapat memberikan solusi, agar nantinya tidak terkaget-kaget jika ada masalah perubahan yang tiba-tiba terjadi.
Mentransformasikan diri yang tepat adalah mulailah melakukan perubahan kecil sebelum mengubah hal-hal yang besar. Tentukan target kecil setiap hari. Berfokuslah pada apa yang benar-benar penting dengan menyalurkan energi pada hal-hal yang membuat kita bahagia dan berharga. Buatlah komitmen untuk berubah dalam beberapa bulan agar bisa terwujud, sehingga diri kita pun tidak punah dalam menghadapi realita kehidupan. Berusahalah menjalani perubahan hidup sebagai kenyataan sehari-hari. Harus berkomitmen sepenuhnya pada kehidupan baru jika benar-benar ingin berubah.
Ingatlah, bahwa perubahan adalah pilihan. Ingatlah pula bahwa perubahan butuh waktu. Buatlah pilihan untuk melakukan perubahan yang diinginkan. Bersabarlah, tidak semuanya berjalan mudah dan secepat cahaya. Pesan saya sebagai penulis adalah jangan pernah berubah demi orang lain, namun berubahlah atas keinginan sendiri dan karena ingin menjadi orang yang lebih baik.
Kesimpulan dari kisah pribadi penulis ini adalah bahwasannya mencintai diri sendiri adalah langkah penting untuk mencapai kesejahteraan emosional dan mental yang berkelanjutan. Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Tentunya setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebenarnya hal apa yang mampu kita lakukan dan kita rubah, jangan takut untuk mencobanya, walaupun terasa tidak mudah. Apapun itu yang terpenting pastikan kita menyukainya, terlebih khusus istiqomah di jalan yang diridhoi-Nya.
Demikian sharing dan cerita yang bisa penulis tuangkan dalam tulisan ini, semoga bermanfaat dan bisa diambil hikmahnya. Intinya adalah, jika kamu selalu melakukan apa yang selalu kamu lakukan, kamu akan selalu mendapatkan apa yang selalu kamu dapatkan, khususnya adalah mentransformasikan diri untuk berubah menuju yang lebih baik.