Teori Reflektivisme
1. Apa itu Refleksi?
Apakah kalian pernah mendengar kata "refleksi"? Refleksi adalah bayangan yang muncul tepat di saat kita bercermin, refleksi biasanya memantulkan hal yang sama, tapi jika kita memperlihatkan tulisan pada cermin, maka tulisan akan menjadi terbalik.
2. Gagasan dasar Refkletivisme
Reflektivisme adalah suatu gagasan di mana ini bukan tentang siapa kita, tapi tentang bagaimana cara kita menghadapi segala sesuatu dengan refleksi. "Diri sendiri" sebenarnya tidak ada, yang ada hanyalah proyeksi ide-ide dalam sepanjang hidup kita. Saat ini apa yang kamu pegang? Ponsel.
Apakah kamu membuat ponselmu sendiri? Tidak.
Apakah kamu bisa membaca tulisan di artikel ini? Iya.
Apakah kamu belajar membaca secara mandiri? Tidak, tapi jika belajar mengetik atau menggunakan ponsel itu mungkin secara mandiri.
Bagaimana kamu bisa tahu bahwa apa yang kamu pegang adalah ponsel, apa yang kamu baca adalah artikel, apa yang kamu gunakan untuk menggulir tulisan terus ke bawah adalah jari, apa yang kamu gunakan untuk melihat artikel adalah mata, dan apa yang kamu gunakan untuk memahami isi artikel adalah otak? Dari mana pun kamu mengetahui semua itu, pastinya kamu menemukannya dari sumber atau orang lain, bukan dirimu sendiri. Jadi, "diri sendiri" itu tidak ada.
3. Autentikasi bukan segalanya
Tapi, jangan khawatir. Autentikasi bukan segalanya, yang terpenting adalah bagaimana caramu tetap menghargai dirimu sendiri tanpa terlalu banyak merugikan. Tidak memiliki "diri sendiri" bukan akhir segalanya, setidaknya kamu masih memiliki kehendak bebas.
Terkadang, beberapa orang mencoba menghabiskan waktu untuk mencari makna hidup atau jati diri, untuk apa? Untuk validasi diri di tengah dunia yang rumit dan besar ini? Tenang saja, kamu masih bisa menemukan nilai dirimu bukan dari jati diri atau apapun itu, tapi dari orang-orang di sekitarmu. Karena itulah, keadilan, stabilitas, dan kenyamanan lebih penting dari autentikasi.
4. Nilai hidup dari lingkungan dan interaksi
Meski sedikit saja atau caranya sering salah, cobalah untuk peduli pada duniamu karena kamu hidup di dalam dunia ini, sistem ini. Meski kamu mungkin tidak menyukainya, tapi pada akhirnya kamu tidak bisa keluar dari sistem lama apalagi menciptakan sistem baru jika tidak bisa bertahan.
5. Penderitaan sebagai Guru
Pembelajaran yang paling menyebalkan sekaligus bernilai adalah penderitaan. Tidak semua orang bisa belajar dari penderitaan, ada saja beberapa orang yang menganggap itu adalah sebuah ketidakadilan semesta atau semacamnya. Padahal, penderitaan bisa dihadapi dengan lebih baik jika kita bisa melihatnya dari segala sisi.
Apa yang kamu rasakan ketika kamu ditinggalkan oleh pasangan atau teman yang paling kamu sayangi? Tentu sedih, marah, putus asa, bahkan mungkin trauma. Meski begitu, menyalahkan situasi hingga selamanya pun tak akan mengubah sesuatu. Kamu harus belajar untuk memahami apa masalahnya, kenapa masalah itu terjadi, dan bagaimana solusinya. Begitulah kebanyakan orang bertahan hidup.
Lalu, masalah sering kali muncul disebabkan oleh orang-orang di sekitar. Meski begitu, penting untuk mengetahui bahwa pembelajaran tidak hanya didapatkan oleh penderitaan, dan tidak semua penderitaan memberikan pelajaran. Jika kamu termotivasi oleh seseorang, teruslah belajar dan berinteraksi dengannya. Jika kamu tidak melihat nilai apapun dari seseorang, tetaplah jaga jarakmu. Karena kamu hanyalah manusia biasa yang seharusnya mengutamakan stabilitas hidup alih-alih drama.
6. Tetap rendah hati dan mengelola emosi
Apapun yang terjadi padamu, ingatlah satu hal penting: jangan pernah menyalahkan "Tuhan". Agama apapun yang kamu anut, itu adalah pilihanmu meski agamamu telah ditentukan oleh keluargamu sejak lahir. Agama adalah keyakinan, jika tidak bisa menjadi seseorang yang taat, setidaknya jangan menjadi orang sombong dan terburu-buru. Meski titik terendah adalah hal paling menyedihkan, tapi tetap saja kita masih memiliki kekuatan untuk melewatinya walaupun rasanya mustahil. Bagaimana pun, kita masih belum terlalu lama hidup di dunia ini, kita bahkan belum benar-benar mengerti seperti apa "Tuhan" itu. Semua orang juga tahu bahwa Tuhan adalah entitas yang menjadi awal mula dan berkuasa atas segala sesuatu sehingga harus disembah. Namun, fakta bahwa banyak dari kita sering kali mengabaikan pengawasan Tuhan atau konsekuensi dosa kemungkinan disebabkan oleh kita tidak benar-benar memahami apalagi merasakan kehadiran Tuhan. Jadi, tetaplah rendah hati. Pikirkan segala kemungkinan dan pandangan. Jangan biarkan emosi menguasaimu, jangan biarkan masa kini atau masa lalu menghentikanmu. Meski masa depan itu abstrak, jika kamu tiba di sana, belum tentu masa depan akan seburuk yang kamu pikirkan.
7. Menerima ketidaksempurnaan
Tidak perlu mengubah dunia untuk memahami dunia, tidak perlu merendahkan sesuatu untuk membuktikan kehendak bebas, tidak perlu menghancurkan cermin meski kamu sudah muak menatapnya.
Reflektivisme mungkin terdengar aneh, tapi ini hanya gagasan yang mencoba menerima ketidaksempurnaan, ketidakpastian, tanpa menuntut autentikasi.
Fun fact teori Reflektivisme: ini teori yang terinspirasi dari
- Stoikisme oleh Zeno: kendalikan apa yang bisa dikendalikan, menerima apa yang tidak bisa dikendalikan.
- Eksistensialisme klasik oleh Søren Kierkegaard: hidup hanya bisa dimaknai jika kamu "melompati" iman dan dekat kepada-Nya.
- Strukturalisme oleh Ferdinand de Saussure: kita hidup dalam berbagai dunia yang dibangun oleh berbagai ide dan pandangan yang membentuk kita tanpa adanya "diri sendiri".
- Dialogis oleh Martin Buber: manusia biasanya dinilai dari dua hal, yaitu kegunaan dan keseluruhan kehadirannya meski di saat dia tidak melakukan apapun.
- Logoterapi oleh Viktor Frankl: penderitaan sekalipun bisa dimaknai dan diambil pelajarannya agar kita terus bertahan serta berkembang dalam hidup.