TANTANGAN MENJAGA KETULUSAN DI ERA FLEXING
Di era digital saat ini, garis antara berbagi kebahagiaan dan pamer keberhasilan menjadi semakin bias. Fenomena flexing menonjolkan kekayaan, pencapaian, hingga aksi kebaikan secara mencolok telah menjadi budaya baru yang mendominasi linimasa media sosial. Di tengah riuhnya kebutuhan akan pengakuan ini, sebuah pertanyaan fundamental muncul, Masih adakah ruang bagi ketulusan yang murni?. Ketulusan, secara esensial adalah sebuah tindakan yang selesai pada dirinya sendiri. Ia tidak membutuhkan saksi, tidak mengharapkan validasi dan tidak mencari tepuk tangan. Namun, algoritma media sosial bekerja dengan cara yang berlawanan. Ia menuntut bukti visual, jika sebuah momen tidak diunggah, seolah-olah momen itu tidak pernah terjadi. Tekanan ini perlahan mengubah niat awal dari “melakukan” menjadi “memperlihatkan”.
Tantangan terbesar di era ini adalah menjaga niat. Ketika seseorang melakukan aksi sosial, misalnya, ada godaan besar untuk segera menyalakan kamera. Alasannya sering kali berlindung di balik kalimat “untuk inspirasi”. Namun, batas antara menginspirasi dan mencari validasi sangatlah tipis. Ketulusan sering kali menguap tepat saat tombol upload ditekan, karena fokus pelaku beralih dari dampak tindakan tersebut menjadi jumlah likes dan komentar yang akan diterima. Flexing menciptakan standar hidup yang semu. Hal ini memaksa individu untuk terus mempertahankan citra tertentu demi dianggap sukses atau bahagia. Ketulusan menuntut kejujuran terhadap realitas, sementara flexing sering kali menuntut kurasi yang manipulatif. Kita menjadi lebih sibuk membangun “etalase” diri daripada memperbaiki apa yang ada di dalam “toko” jiwa kita. Akibatnya, ketulusan terhadap diri sendiri pun ikut terancam.
Dahulu, ada pepatah yang mengatakan bahwa jika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Di era flexing, prinsip ini dianggap kuno. Privasi kebaikan kini menjadi komoditas. Padahal, ada kekuatan emosional dan spiritual yang luar biasa dalam keheningan sebuah amal atau pencapaian. Keheningan itulah yang menjaga ego agar tetap rendah hati. Tanpanya, kebaikan hanya akan menjadi alat untuk memperbesar ego (narsisme). Menjaga ketulusan di tengah badai flexing bukanlah tugas yang mudah, tetapi bukan berarti mustahil. Langkah awalnya adalah dengan memberikan jeda antara kejadian dan unggahan. Bertanyalah pada diri sendiri: "Jika fitur jumlah likes dihilangkan, apakah saya tetap akan mengunggah ini?"
“Ketulusan adalah kemewahan batin yang tidak bisa dibeli dengan pengikut digital. Di dunia yang sibuk memamerkan “apa yang dimiliki”, keikhlasan untuk tetap diam dan berbuat tanpa suara adalah sebuah bentuk perlawanan yang elegan. Kita harus berani membiarkan sebagian hidup kita tetap menjadi rahasia antara diri kita dan Sang Pencipta, karena di sanalah letak ketulusan yang paling asli.”