Opini & Artikel

SPIRIT SEKUMPUL: MENANAM CINTA DAN MEMANEN PERSATUAN

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Selasa, 30 Desember 2025 | Dibaca 3 kali
Gambar SPIRIT SEKUMPUL: MENANAM CINTA DAN MEMANEN PERSATUAN

Setiap tahun, jutaan manusia berkumpul membentuk bentang putih yang tak berujung di Martapura. Namun, esensi dari fenomena ini bukan terletak pada jumlah (kuantitas), melainkan pada kualitas hubungan antarmanusia yang tercipta. Di tengah dunia yang sering kali terfragmentasi oleh perbedaan politik, status sosial dan latar belakang suku, Haul Abah Guru Sekumpul muncul sebagai sebuah anomali yang indah. Ini adalah pembuktian bahwa cinta adalah satu-satunya instrumen yang mampu menyatukan hati tanpa perlu banyak regulasi.

Spirit Sekumpul dimulai dari satu titik: Mahabbah (Cinta). Cinta jamaah kepada sang guru (Abah Guru Sekumpul) tidak berhenti sebagai pemujaan figur, melainkan tumbuh menjadi energi untuk meneladani sifat-sifat beliau. Ketika seseorang mencintai figur yang mengajarkan kasih sayang, maka individu tersebut akan mempraktekkan kasih sayang itu kepada lingkungannya. Inilah "benih" yang ditanam di hati setiap jamaah yang hadir. Hasil dari benih cinta tersebut adalah persatuan yang tulus. Di Sekumpul, kita melihat "Panen Persatuan" dalam bentuk yang paling murni. Ada 3 persatuan yang dipanen, yaitu:

Ø  Persatuan Ekonomi: Warga secara sukarela menyumbangkan harta, makanan, dan tenaga tanpa mengharap imbal balik materi.

Ø  Persatuan Sosial: Tidak ada kursi VVIP bagi pejabat yang memisahkan mereka dari rakyat jelata. Semua duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

Ø  Persatuan Hati: Jutaan orang mampu menjaga ketertiban dan kedamaian tanpa perlu pengawasan ketat, karena mereka disatukan oleh rasa saling menghargai.

Spirit ini memberikan pelajaran mahal bagi bangsa Indonesia. Jika selama ini kita sering berdebat tentang cara mempersatukan bangsa melalui jalur formal, Sekumpul menawarkan jalur Kultural-Spiritual. Ini membuktikan bahwa ketika masyarakat memiliki satu frekuensi cinta yang sama, maka persatuan akan lahir secara organik. Persatuan di Sekumpul bukan persatuan yang dipaksakan, melainkan persatuan yang dirayakan. Spirit Sekumpul seharusnya menjadi "bahan bakar" bagi kita untuk tetap bersatu dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita bisa mencintai orang asing di Sekumpul hanya karena mereka sesama jamaah, seharusnya kita juga bisa mencintai sesama warga bangsa dalam kehidupan bernegara.

"Sekumpul bukan sekadar tempat berkumpul, ia adalah pengingat bahwa saat cinta ditanam dengan tulus, persatuan adalah buah yang niscaya akan kita panen bersama."

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.