Opini & Artikel

SKETSA DI ATAS AIR: TENTANG KEIKHLASAN MELEPASKAN JEJAK

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Sabtu, 31 Januari 2026 | Dibaca 17 kali
Gambar SKETSA DI ATAS AIR: TENTANG KEIKHLASAN MELEPASKAN JEJAK

Salah satu ketakutan terbesar manusia adalah menjadi tidak berarti. Kita memiliki dorongan purba untuk meninggalkan jejak, entah itu dalam bentuk karya, nama besar, atau pengaruh yang kita harap akan abadi. Kita ingin memahat eksistensi kita di atas batu karang agar dunia selalu ingat bahwa kita pernah ada. Namun, hidup sering kali memberi kita media yang berbeda. Menulis di atas air adalah kesia-siaan bagi mereka yang memuja keabadian duniawi. Namun, bagi jiwa yang telah menemukan makna, "Sketsa di Atas Air" adalah representasi tertinggi dari sebuah nilai yang paling sulit dipelajari manusia.

Kita sering kali terjebak dalam obsesi untuk diakui. Setiap kebaikan yang kita lakukan, setiap pencapaian yang kita raih, seolah-olah harus memiliki "sertifikat" atau prasasti yang tak boleh lekang oleh waktu. Kita merasa gagal jika jejak kita terhapus, jika nama kita dilupakan, atau jika kontribusi kita tidak lagi disebut-sebut. Ketakutan akan terhapusnya jejak ini sebenarnya adalah bentuk dari penolakan terhadap hakikat waktu. Kita lupa bahwa dunia ini adalah ruang yang dinamis, di mana perubahan adalah satu-satunya kepastian. Saat kita memaksakan diri untuk memahat di atas batu yang sebenarnya rapuh, kita justru menciptakan penderitaan bagi diri sendiri ketika waktu akhirnya meruntuhkan batu tersebut.

Mari kita perhatikan air. Air tidak menyimpan goresan. Apapun yang jatuh ke permukaannya akan menciptakan riak, sebuah bentuk yang indah sesaat, lalu perlahan merata kembali menjadi ketenangan yang murni. Air tidak merasa kehilangan bentuknya saat riak itu hilang, ia kembali menjadi dirinya yang luas dan dalam. Melakukan "sketsa di atas air" berarti melakukan kebaikan atau menciptakan sesuatu tanpa tuntutan agar hal tersebut terus diingat. Ini adalah tentang berbuat karena esensi perbuatannya sendiri, bukan karena gema pujian yang mengikutinya. Keikhlasan sejati adalah ketika kita mampu melepaskan hasil dari tindakan kita sepenuhnya. Kita memberi, lalu melupakan. Kita mencintai, lalu melepaskan kendali atas objek cinta tersebut.

Ada keindahan mistis dalam sesuatu yang bersifat sementara. Sebuah sketsa yang segera menghilang di permukaan air mengajarkan kita untuk menghargai "saat ini" (the present moment). Karena jejak itu akan segera hilang, maka kehadiran kita saat sedang menggoreskannya menjadi sangat sakral dan penuh kesadaran. Jika kita sadar bahwa jejak kita di dunia ini hanyalah sketsa di atas air, kita tidak akan lagi terbebani oleh ego. Kita akan lebih fokus pada kualitas "goresan" kita yang seberapa tulus, seberapa penuh kasih dan seberapa bermanfaat, daripada mencemaskan berapa lama goresan itu akan bertahan.

Pada akhirnya, semua jejak manusia akan memudar. Sejarah akan melupakan nama-nama, dan zaman akan mengubur peradaban. Melepaskan jejak bukan berarti menyerah pada ketiadaan, melainkan sebuah bentuk kepasrahan kepada Sang Pemilik Keabadian. Belajar ikhlas adalah belajar menjadi air. Berani mengalir, berani memberi bentuk pada kehidupan, namun juga berani membiarkan permukaan itu kembali tenang dan rata. Sebab, di hadapan keabadian, bukanlah seberapa lama nama kita tertulis, melainkan seberapa tulus tangan kita saat sedang menggoreskan cinta di atas hamparan takdir.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.