Opini & Artikel

SEKUMPUL: LABORATORIUM DERMAWAN TERBESAR DI DUNIA

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Selasa, 30 Desember 2025 | Dibaca 4 kali
Gambar SEKUMPUL: LABORATORIUM DERMAWAN TERBESAR DI DUNIA

Sekumpul bukanlah sebuah hiperbola, melainkan deskripsi akurat atas fenomena sosiologis yang terjadi setiap tahun di Martapura. Di sini, teori ekonomi konvensional tentang "kelangkaan" runtuh, digantikan oleh kelimpahan yang lahir dari ketulusan. Dalam ekonomi standar, orang cenderung menyimpan sumber daya untuk diri sendiri. Namun di Sekumpul, jutaan orang justru berlomba-lomba untuk menghabiskannya demi orang lain. Keajaiban ini digerakkan oleh recehan masyarakat hingga sumbangan besar para pengusaha lokal secara anonim. Dari makanan gratis, bensin gratis, hingga tambal ban gratis. Ini adalah bukti bahwa sistem "ekonomi hadiah" (gift economy) bekerja lebih efektif daripada sistem transaksional manapun dalam skala massa.

Kedermawanan ini tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah hasil dari "eksperimen" panjang pendidikan akhlak yang diajarkan oleh Abah Guru Sekumpul. Beliau bukan hanya mengajar di atas podium, tapi mencontohkan bagaimana memuliakan tamu. Sekumpul menjadi laboratorium dimana nilai-nilai Islam tentang derma (murah harta) dan khidmah (pelayanan) dipraktikkan langsung oleh jutaan "siswa" (jamaah) secara serentak.

Bayangkan sebuah kota kecil yang mampu menampung dan memberi makan jutaan orang dalam hitungan hari tanpa kekacauan. Tidak ada EO (Event Organizer) profesional yang dibayar mahal. "Panitia" nya adalah cinta. Masyarakat Martapura dan sekitarnya menyediakan rumah mereka sebagai penginapan cuma-cuma. Ini adalah level tertinggi dari kedermawanan, dimana menyerahkan ruang privasi untuk orang asing. Dunia hari ini seringkali sinis terhadap ketulusan. Sekumpul hadir sebagai antitesis terhadap egoisme modern. Ia membuktikan bahwa manusia, jika disatukan oleh rasa cinta yang sama, mampu menciptakan sistem pendukung kehidupan yang paling dermawan di planet ini. Sekumpul adalah laboratorium tempat kita belajar bahwa harta tidak berkurang saat dibagi, dan kebahagiaan tertinggi justru ditemukan saat kita menjadi pelayan bagi sesama musafir.

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.