Opini & Artikel

SEJAUH MATA MEMANDANG, SEDEKAT DOA MENETAP

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Selasa, 21 April 2026 | Dibaca 5 kali
Gambar SEJAUH MATA MEMANDANG, SEDEKAT DOA MENETAP

Jarak sering kali dianggap sebagai pemisah yang kejam. Ia menciptakan bentang kilometer yang melelahkan, zona waktu yang berselisih dan raga yang tak lagi bisa bersentuhan. Namun, dalam hubungan antara ibu dan anak, jarak sebenarnya sedang menjalankan peran yang berbeda, ia menjadi ujian sekaligus pembuktian bahwa kasih sayang memiliki frekuensi yang tidak membutuhkan kehadiran fisik untuk tetap menyala.

Jarak dan Ruang bertumbuh ketika seorang anak memutuskan untuk melangkah jauh demi cita-cita atau pengabdian, di situlah sebuah babak baru dimulai. Mata mungkin tak lagi bisa menangkap detail guratan di wajah ibu dan telinga tak lagi mendengar petuah langsung di meja makan. Namun, keterpisahan ini justru melahirkan kemandirian yang matang. Di tanah rantau atau di tengah kesibukan profesional, sosok ibu tidak lagi hadir sebagai pengawas, melainkan sebagai kompas moral yang nilai-nilainya telah menetap jauh di dalam sanubari.

Doa sebagai Jembatan Metafisik, ada sebuah kekuatan yang tidak mampu dijelaskan oleh logika jarak, yaitu kekuatan doa. Dalam relasi ibu dan anak, doa bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah “percakapan batin” yang melampaui batas geografis. Saat mata tak lagi mampu memandang, doa menjadi satu-satunya cara untuk memeluk tanpa menyentuh dan menjaga tanpa mendampingi.

Konsep “Sedekat Doa Menetap” mengajarkan kita bahwa cinta yang tulus tidak bergantung pada apa yang terlihat oleh mata, melainkan apa yang dirasakan oleh jiwa. Meskipun raga tidak ada di ruangan yang sama, pengaruh dan kasih sayang seorang ibu tetap menjadi pondasi dalam setiap pengambilan keputusan sang anak. Doa adalah bentuk cinta paling murni karena ia bekerja dalam diam, tanpa perlu validasi, dan mampu menjangkau sejauh apa pun langkah kaki membawa kita pergi.

Pada akhirnya, jarak hanyalah angka di atas peta. Bagi ibu dan anak yang terpisah ruang, “Sejauh Mata Memandang” adalah sebuah realitas fisik yang harus diterima dengan lapang dada. Namun, “Sedekat Doa Menetap” adalah sebuah hakikat spiritual yang memberikan ketenangan. Jarak mungkin menjauhkan pandangan, tetapi ia justru mendekatkan hati pada satu titik temu yang paling sakral, yaitu restu dan doa yang tak pernah putus.

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.