Opini & Artikel

SAYANG DAN TULUSNYA SEORANG KAKAK: BAHASA PERBUATAN YANG SERING TERLUPAKAN

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Minggu, 04 Januari 2026 | Dibaca 15 kali
Gambar SAYANG DAN TULUSNYA SEORANG KAKAK: BAHASA PERBUATAN YANG SERING TERLUPAKAN

Kasih sayang seorang kakak adalah jenis cinta yang unik. Ia tidak selalu manis di telinga, tidak selalu hangat dalam pelukan, namun ia bekerja tanpa henti melalui bahasa perbuatan. Inilah cinta yang sering kali terlupakan karena ia tidak pandai bersajak, melainkan lebih suka bekerja dalam diam. Berbeda dengan orang tua yang memiliki otoritas alami, seorang kakak berada di posisi yang dilematis. Ia adalah teman bermain, namun juga penjaga. Sering kali rasa sayang kakak menjelma dalam bentuk "omelan" atau "larangan". Ketika seorang kakak melarang adiknya pulang larut malam atau mengkritik pilihan temannya, itu bukanlah bentuk kekuasaan. Itu adalah manifestasi dari ketakutan jika adiknya terluka. Kakak adalah orang pertama yang rela terlihat "jahat" di mata adiknya, demi memastikan adiknya tetap berada di jalan yang aman. Bagi kakak, dibenci oleh adik jauh lebih baik daripada melihat adiknya menderita akibat kesalahan yang sebenarnya bisa dicegah.

Salah satu ketulusan kakak yang paling nyata adalah perannya sebagai penyangga atau bumper. Sebelum sebuah masalah sampai ke telinga orang tua, atau sebelum beban hidup menghantam adik-adiknya, kakak terlebih dahulu berdiri di garis depan. Seorang kakak sering kali meredam amarah orang tua untuk melindungi adiknya. Ia menyisihkan tabungannya agar adiknya bisa membeli barang yang diinginkan, atau ia rela mengubur mimpinya sendiri demi memastikan adik-adiknya memiliki kesempatan pendidikan yang lebih baik. Ketulusan ini jarang dipamerkan, ia dilakukan seolah-olah itu adalah kewajiban alami, padahal itu adalah pengorbanan yang luar biasa. Jika kita jeli melihat, ketulusan kakak ada pada hal-hal kecil yang sering kita anggap remeh.

Kakak mungkin jarang mengucap "Aku sayang kamu" secara lisan. Namun, setiap tetes keringatnya untuk membantu tugas sekolah adiknya dan setiap pasang matanya yang mengawasi dari jauh adalah kalimat cinta yang paling jujur. Dunia sering kali menuntut kakak untuk selalu kuat, selalu mengalah dan selalu menjadi teladan. Kita sering lupa bahwa di balik pundaknya yang tangguh, seorang kakak tetaplah manusia yang butuh apresiasi. Menghargai ketulusan seorang kakak tidak butuh upacara besar. Terkadang, cukup dengan ucapan terima kasih yang tulus atau sekadar menanyakan, "Kakak capek ya hari ini?" bagi mereka itu sudah lebih dari cukup untuk membayar semua lelahnya. Pada akhirnya, kakak adalah pahlawan tanpa tanda jasa di dalam rumah. Ia adalah jembatan yang menghubungkan harapan orang tua dengan masa depan adik-adiknya. Mari mulai melihat omelan dan ketegasannya, karena di sana, tersimpan ketulusan yang tak terbatas dan sebuah bahasa perbuatan yang meski sering terlupakan. Ini adalah salah satu bentuk cinta paling murni yang pernah ada.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.