Opini & Artikel

SATU DETIK SEBELUM SELAMANYA: MENGHARGAI KEFANAAN

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Jumat, 30 Januari 2026 | Dibaca 6 kali
Gambar SATU DETIK SEBELUM SELAMANYA: MENGHARGAI KEFANAAN

Kita hidup dalam peradaban yang ketakutan akan garis finis. Kita membangun gedung pencakar langit, menulis biografi dan mengunggah setiap momen ke awan digital dengan satu ambisi tersembunyi, yaitu ingin abadi. Kita menganggap kefanaan adalah sifat segala sesuatu yang akan berakhir dan sebagai musuh yang harus dikalahkan. Namun, bagaimana jika keindahan hidup justru terletak pada fakta bahwa ia akan usai? Bayangkan jika matahari tidak pernah terbenam. Semburat jingga yang kita puja setiap senja akan kehilangan pesonanya karena ia selalu ada. Keindahan bunga sakura bukan terletak pada kelopaknya yang merah muda, melainkan pada keberaniannya untuk gugur dalam hitungan hari.

Dalam hidup, kefanaan adalah bumbu yang memberi rasa pada setiap detik. Ketika kita menyadari bahwa pelukan orang tua, tawa sahabat, atau segelas kopi di pagi hari memiliki "tanggal kedaluwarsa," kita cenderung tidak akan menyia-nyiakannya. "Satu detik sebelum selamanya" adalah kesadaran bahwa setiap momen adalah kesempatan tunggal yang tidak akan terulang dalam konfigurasi yang sama. Penyakit manusia modern adalah menunda hidup demi masa depan yang belum tentu tiba. Kita sering berkata, "Aku akan bahagia setelah sukses nanti," tanpa menyadari bahwa "nanti" adalah konsep abstrak yang sering kali menipu.

Menghargai kefanaan berarti merangkul konsep Memento Mori (ingatlah bahwa engkau akan mati). Ini bukan ajakan untuk menjadi pesimis atau murung, melainkan sebuah alarm kesadaran. Jika kita tahu bahwa waktu kita terbatas, kita akan lebih selektif dalam memilih apa yang layak mendapatkan perhatian kita. Kita berhenti mencemaskan komentar orang asing dan mulai peduli pada detak jantung kita sendiri. Menghargai kefanaan adalah bentuk tertinggi dari rasa syukur. Kita tidak butuh selamanya untuk merasa bermakna. Justru dalam keterbatasan ruang dan waktu, setiap keputusan yang kita buat menjadi bernilai. Hidup bukanlah sebuah maraton menuju keabadian, melainkan sekumpulan "satu detik" yang berharga. Jangan menunggu segalanya hilang untuk mulai menghargai kehadirannya. Sebab pada akhirnya, kita bukan pemilik dari kehidupan ini, melainkan kita hanyalah tamu yang sedang mampir sebentar.

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.