Opini & Artikel

SAJADAH WAKTU YANG SERING TERGADAIKAN ANGKA

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Minggu, 31 Mei 2026 | Dibaca 6 kali
Gambar SAJADAH WAKTU YANG SERING TERGADAIKAN ANGKA

Kita hidup di era di mana waktu telah direduksi menjadi komoditas. Di bawah kendali modernitas, waktu diukur dengan metrik pencapaian yang kaku, jam kerja, tenggat waktu (deadline), angka produktivitas, hingga akumulasi materi. Manusia modern kerap terjebak dalam perlombaan lari yang melelahkan, mengejar masa depan yang abu-abu sembari mencemaskan masa lalu yang telah berlalu. Dalam riuhnya pacuan tersebut, kita sering lupa bahwa waktu bukan sekadar linimasa yang bergerak linear menuju garis akhir fana. Bagi seorang hamba, waktu adalah sebuah sajadah tak kasatmata yang dibentangkan oleh Sang Pencipta. Memaknai “Sajadah Waktu” berarti berani menghentikan sejenak langkah yang tergesa-gesa, lalu duduk bersimpuh untuk menggugat kembali, ke mana arah perjalanan hidup kita yang sebenarnya?

Dalam perspektif spiritual, setiap detik yang berdetak di pergelangan tangan bukanlah tanda bahwa kita sedang bertambah usia, melainkan isyarat bahwa jatah hidup kita sedang dikurangi. Imam Hasan Al-Basri pernah berpesan, “Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka berlalu pula sebagian dari dirimu."

Ketika kita memandang waktu sebagai sajadah, setiap momen yang kita lalui berubah status menjadi ruang sakral untuk bersujud, dalam arti tunduk pada ketetapan-Nya. Sayangnya, arus kehidupan modern sering kali melipat sajadah tersebut. Kita terlalu sibuk mengisi waktu dengan “kebisingan” duniawi dan pemenuhan ego, hingga mengabaikan esensi dari waktu itu sendiri sebagai ladang untuk menanam kebaikan (darul izhar) yang buahnya akan dipetik di keabadian.

Tantangan terbesar manusia hari ini dalam menjaga kesucian “sajadah waktu” mereka adalah banjir informasi dan distraksi digital. Layar gawai telah berhasil memecah fokus manusia. Kita bisa menghabiskan berjam-jam menyelami realitas virtual yang semu, namun merasa berat untuk meluangkan beberapa menit dalam keheningan yang berkualitas (deep contemplation).

Di sinilah letak pentingnya etika menyaring konten dan menjaga integritas batin. Ketika kita tidak mampu memfilter apa yang masuk ke dalam pikiran dan hati, sajadah waktu kita akan dipenuhi oleh debu-debu kecemasan sosial, rasa iri atas pencapaian orang lain dan kepura-puraan virtual. Menghamparkan sajadah waktu berarti menyaring kebisingan itu, menyisakan ruang yang bersih di dalam hati untuk berdialog dengan diri sendiri dan Sang Pencipta.

Sebuah sajadah hanya akan menjadi tempat sujud yang nyaman jika ia dirajut dengan benang ketulusan. Begitu pula dengan waktu. Menjalani hari dengan mengeluh, mengejar validasi manusia, atau meratapi takdir yang tidak sesuai harapan hanya akan mengotori waktu yang kita miliki.

Konsep ikhlas dan tawakal adalah warna dasar dari sajadah waktu ini. Ikhlas berarti mengosongkan bejana diri dari pamrih keduniawian saat melakukan kebajikan. Sementara tawakal adalah kesadaran bahwa setelah kita berusaha mengukir karya terbaik di atas lembaran waktu, hasil akhirnya berada di luar kendali kita, ia adalah hak prerogatif Allah SWT.

Pada akhirnya, menghidupkan makna “Sajadah Waktu” adalah panggilan untuk pulang. Pulang dari pengembaraan duniawi yang melelahkan menuju rumah hakiki di dalam diri. Kita tidak perlu menunggu momentum besar untuk bersujud dan bersyukur. Setiap helaan napas, setiap fajar yang terbit dan setiap kesempatan untuk memperbaiki diri adalah bentangan sajadah yang baru.

Mari kita gugat kembali sisa waktu yang kita miliki. Jangan biarkan ia tergadaikan oleh angka-angka pencapaian yang fana atau topeng-topeng ego yang melelahkan. Di atas sajadah waktu yang kian menyempit ini, marilah kita ukir jejak-jejak ketulusan, merawat cinta kasih kepada sesama dan menjaga integritas batin hingga tiba saatnya sajadah kehidupan kita dilipat untuk selamanya.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.