Opini & Artikel

REFLEKSI FILOSOFIS: MENGGALI MAKNA DAN TUJUAN HIDUP

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Minggu, 23 November 2025 | Dibaca 14 kali
Gambar REFLEKSI FILOSOFIS: MENGGALI MAKNA DAN TUJUAN HIDUP

Sejak zaman kuno, pertanyaan tentang tujuan hidup telah menjadi inti dari penyelidikan filosofis. Mengapa kita ada? Apa yang seharusnya kita capai? Pertanyaan fundamental ini terus memicu perdebatan, melahirkan berbagai mazhab pemikiran yang menawarkan peta jalan berbeda menuju kehidupan yang bermakna. Refleksi filosofis bukanlah mencari jawaban tunggal, melainkan upaya berkelanjutan untuk memahami kerangka berpikir yang menuntun eksistensi kita.

Bagi filsuf Yunani Aristoteles, tujuan tertinggi manusia adalah mencapai Eudaimonia, yang sering diterjemahkan sebagai "hidup yang mekar" atau "kebahagiaan sejati," bukan sekadar kesenangan sesaat. Inti Pemikiran: Eudaimonia dicapai melalui aktivitas jiwa yang sesuai dengan kebajikan. Manusia, sebagai makhluk rasional, mencapai potensi penuhnya ketika ia menggunakan akalnya untuk bertindak secara etis dan seimbang (mencari jalan tengah). Tujuan Hidup: Mengembangkan karakter yang baik dan menjalankan fungsi kemanusiaan kita yakni, menggunakan akal budi secara unggul. Hidup yang bertujuan, menurut Aristoteles, adalah hidup yang dijalani dengan alasan dan integritas.

Bertentangan dengan Aristoteles, beberapa mazhab awal dan modern berfokus pada kesenangan sebagai kebaikan tertinggi. Hedonisme Klasik (Epikuros): Tujuan hidup adalah mencapai Aponia (bebas dari rasa sakit fisik) dan Ataraxia (ketenangan jiwa atau bebas dari gangguan mental). Tujuannya bukan pesta pora, melainkan kesederhanaan dan ketenangan yang menghilangkan penderitaan. Tujuan hidup kolektif adalah mencari "kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbanyak." Tujuan pribadi pun sering kali berkorelasi dengan kontribusi terhadap kebahagiaan umum.

Pada abad ke-20, Eksistensialisme membalikkan pandangan tradisional. Filsuf seperti Jean-Paul Sartre berpendapat, "Eksistensi mendahului esensi." Inti Pemikiran: Kita lahir tanpa tujuan atau kodrat yang sudah ditentukan (esensi). Kita adalah makhluk yang eksisten terlebih dahulu, dan melalui pilihan serta tindakan kita, kita menciptakan makna dan tujuan hidup kita sendiri. Tujuan Hidup: Bertanggung jawab penuh atas kebebasan kita. Tujuan bukanlah sesuatu yang ditemukan, melainkan sesuatu yang diciptakan melalui proyeksi diri, komitmen, dan menghadapi kecemasan yang timbul dari kebebasan absolut. Berasal dari Eksistensialisme, Absurdisme (dipopulerkan oleh Albert Camus) menerima bahwa ada jurang pemisah antara keinginan manusia akan makna dan "keheningan yang tidak masuk akal" dari alam semesta. Inti Pemikiran: Hidup secara inheren tidak memiliki tujuan universal atau ilahi. Situasi ini, yang disebut Absurd, harus dihadapi, bukan dihindari.

Tujuan Hidup: Ada tiga respon terhadap Absurd: Bunuh Diri (menghilangkan Absurd), Lompatan Iman (mencari makna irasional), dan Pemberontakan (mengakui Absurd, namun tetap hidup dengan gairah dan kesadaran penuh). Pemberontakan: kita harus merangkul kehidupan tanpa makna, seperti Sisyphus yang terus mendorong batu ke atas bukit, dan justru di dalam perjuangan itulah ditemukan kehormatan dan kebahagiaan. Secara filosofis, tidak ada satu pun tujuan hidup yang baku. Namun, refleksi atas pandangan-pandangan di atas menawarkan kerangka kerja:

Tujuan sebagai Pencapaian (Aristoteles): Fokus pada pengembangan diri dan kontribusi etis. Tujuan sebagai Keseimbangan (Hedonisme): Fokus pada minimasi penderitaan dan pencarian ketenangan. Tujuan sebagai Kreasi (Eksistensialisme): Fokus pada kebebasan untuk mendefinisikan diri dan menciptakan nilai. Pada akhirnya, refleksi filosofis tentang tujuan hidup mengarahkan kita pada sebuah kesimpulan personal: Tujuan hidup mungkin tidak ditemukan di alam semesta, tetapi ia diciptakan dalam interaksi kita dengan dunia, melalui pilihan yang kita buat, dan makna yang kita berikan pada perjuangan kita.

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.