Opini & Artikel

REFLEKSI 1 MUHARRAM 2026: AKAR KUAT UNTUK UMAT YANG HEBAT

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Senin, 15 Juni 2026 | Dibaca 21 kali
Gambar REFLEKSI 1 MUHARRAM 2026: AKAR KUAT UNTUK UMAT YANG HEBAT

Waktu berjalan tanpa permisi. Hari ini, kita kembali berdiri di gerbang tahun baru Islam, 1 Muharram 1448 Hijriah. Di tengah riuh rendah peradaban tahun 2026 yang kian cepat, instan dan serba digital, momentum hijrah sering kali terjebak dalam batas seremonial. Kita fasih mengucapkan selamat, namun sering kali alpa memaknai esensi. Tema Muharram tahun ini adalah “Menebar Maslahat, Menguatkan Umat,” membawa kita pada satu perenungan mendasar yaitu bagaimana mungkin kita bisa membangun umat yang hebat dan berdampak luas, jika akar spiritualitas dan sosial kita sendiri rapuh?

Sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukanlah sekadar kisah pelarian fisik menghindari persekusi. Ia adalah cetak biru (blueprint) sebuah transformasi peradaban. Rasulullah tidak langsung membangun gedung-gedung megah di Madinah, langkah awal beliau adalah memperkuat akar. Beliau membangun masjid sebagai pusat literasi dan konsolidasi, lalu mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar demi mengikis sekat-sekat egoisme kelompok.

Di tahun 2026, tantangan umat telah bergeser. Kita tidak lagi berhadapan dengan jarak geografis, melainkan dengan jarak sosial yang melebar akibat polarisasi digital, gempuran kecerdasan buatan (AI) yang mendisrupsi lapangan kerja, hingga krisis mentalitas (anxiety dan insecurity) di kalangan generasi muda. Di sinilah relevansi judul “Akar Kuat untuk Umat yang Hebat” menemukan urgensinya.

Umat yang hebat tidak lahir dari kedangkalan. Di era di mana kebenaran sering kali dikalahkan oleh keviralatan, akar pertama yang harus diperkuat adalah akar spiritual dan literasi (Iqra’). Peristiwa hijrah mengajarkan kita untuk menyaring informasi, mengonfirmasi kabar dan menjaga hati dari penyakit pamer (flexing) serta hasad di media sosial.

Hijrah di tahun 2026 berarti memindahkan fokus kita dari sekadar “konsumen digital” yang pasif menjadi “produsen kemaslahatan”. Ketika akar keimanan dan intelektualitas seorang Muslim itu kuat, ia tidak akan mudah terombang-ambing oleh tren sesaat atau hoaks yang memecah belah.

Pohon yang akarnya kuat tidak akan menyimpan nutrisinya untuk diri sendiri; ia akan berbuah, rimbun dan menjadi tempat berteduh bagi siapa saja di sekitarnya. Begitu pula dengan umat Islam. Kekuatan umat tidak diukur dari seberapa keras kita berteriak tentang identitas kita, melainkan seberapa besar manfaat (maslahat) yang dirasakan oleh lingkungan sekitar, termasuk oleh mereka yang berbeda keyakinan dengan kita.

Menebar maslahat di era modern bisa diwujudkan pada 3 hal: Pertama, menguatkan ekonomi umat melalui optimalisasi zakat, infak dan wakaf. Kedua, membantu mereka yang terhimpit inflasi dan kemiskinan. Ketiga, menyadari bahwa menjaga kelestarian bumi, mengurangi sampah plastik dan menjaga kebersihan adalah bagian dari iman (Green Deen).

Kita tidak bisa memimpikan umat yang hebat jika fondasi terkecil kita, yaitu keluarga dan komunitas lokal masih rapuh. Menguatkan umat harus dimulai dari rumah. Di sinilah nilai-nilai karakter, integritas dan kasih sayang ditanamkan kepada Generasi Alpha dan Gen Z selaku pemegang estafet masa depan. 1 Muharram 2026 harus menjadi momentum titik balik. Saatnya kita berhenti menjadi penonton di pinggir lapangan sejarah.

Mari jadikan awal tahun 1448 Hijriah ini sebagai waktu untuk menancapkan akar sedalam-dalamnya, perbaiki hubungan dengan Sang Pencipta, perkuat solidaritas antar-sesama dan luaskan dampak kebaikan. Sebab, hanya pohon dengan akar yang kuat yang mampu bertahan menerjang badai zaman dan hanya dari akar yang kuat itulah, akan lahir buah maslahat yang menjadikan umat ini benar-benar hebat. Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.