Opini & Artikel

NAPAS KURBAN ANTARA PENGORBANAN, KEMANUSIAAN DAN KELESTARIAN

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Selasa, 26 Mei 2026 | Dibaca 7 kali
Gambar NAPAS KURBAN ANTARA PENGORBANAN, KEMANUSIAAN DAN KELESTARIAN

Setiap tahun, gemuruh takbir Iduladha selalu berhasil menggetarkan ruang kesadaran kita. Di balik ritual penyembelihan hewan yang masif, ada sebuah napas kehidupan yang ditiupkan, yaitu napas pengorbanan. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya tantangan zaman, makna pengorbanan tidak boleh mandek pada tumpahan darah hewan ternak di atas tanah. Ada benang merah yang harus ditarik lebih panjang agar ibadah ini tetap relevan, yakni bagaimana spirit kurban mampu merawat dua pilar utama kehidupan kita, yakni kemanusiaan dan kelestarian alam.

Jika kita menyelami akar sejarahnya, kurban adalah simbol kepatuhan mutlak Nabi Ibrahim AS dan keikhlasan Nabi Ismail AS. Ini adalah bentuk pengorbanan ego, kepemilikan dan cinta duniawi demi sesuatu yang jauh lebih besar. Di era modern, “menyembelih” hewan kurban sejatinya adalah simbolisasi dari kewajiban kita untuk menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia, seperti: keserakahan, keegoisan dan ketidakpedulian.

Dari titik inilah, napas pengorbanan itu bertransformasi menjadi aksi kemanusiaan. Kurban adalah instrumen teologis yang memaksa kita memotong sekat-sekat sosial. Melalui sebungkus daging yang dibagikan, kaum berada dan kaum papa duduk di meja makan yang sama, menikmati hidangan yang sama. Di tengah dunia yang kian individualis dan digerus ketimpangan ekonomi, kurban hadir sebagai jembatan empati. Ia bukan sekadar ritual bagi-bagi makanan, melainkan sebuah ikhtiar pemulihan martabat kemanusiaan, di mana setiap orang berhak merasa dihargai dan dirayakan.

Namun, di tengah krisis iklim global yang kian mencemaskan, manifestasi kurban tidak boleh berhenti di piring makan kaum dhuafa. Di sinilah dimensi ketiga, yaitu kelestarian menjadi sangat krusial. Rasulullah SAW adalah sosok yang sangat mencintai lingkungan. Beliau melarang umatnya berlaku kasar pada hewan dan merusak alam. Maka, sungguh ironis jika ibadah yang suci ini justru menyisakan jejak karbon dan kerusakan ekologis. Mari kita jujur berkaca. Berapa juta kantong plastik sekali pakai yang kita hambur-hamburkan setiap hari raya kurban hanya untuk mendistribusikan daging? Berapa banyak limbah kotoran dan darah hewan yang dibuang sembarangan ke sungai hingga mencemari ekosistem air?

Ibadah yang tidak melahirkan kepedulian pada lingkungan adalah ibadah yang kehilangan salah satu sayapnya. Kurban yang sejati tidak akan pernah mengorbankan masa depan bumi. Oleh karena itu, meneguhkan spirit kurban di masa kini menuntut kita untuk mengadopsi konsep eco-kurban atau kurban hijau. Pengorbanan hari ini juga berarti mengorbankan kenyamanan kita untuk tidak lagi menggunakan plastik sekali pakai dan menggantinya dengan wadah ramah lingkungan seperti daun jati, daun pisang, atau besek bambu. Pengorbanan hari ini adalah komitmen para panitia kurban untuk mengelola limbah penyembelihan dengan bijak agar tidak mengotori ruang publik.

Pada akhirnya, napas kurban adalah napas kehidupan itu sendiri. Ia adalah lingkaran kebaikan yang utuh. Ketika kita rela berkorban (hablumminallah), kita sedang menguatkan solidaritas kemanusiaan (hablumminannas), yang pada saat bersamaan wajib dibersamai dengan menjaga alam tempat kita berpijak (hablumminalam).

Iduladha tahun ini harus menjadi momentum transisi kesalehan kita, dari kesalehan ritual yang personal, menuju kesalehan sosial dan ekologis yang universal. Hanya dengan cara itulah, darah kurban yang mengalir ke bumi tidak akan menguap sia-sia, melainkan menjelma menjadi berkah yang menghidupkan kemanusiaan dan merawat kelestarian alam.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.