Opini & Artikel

MENILIK ANXIOUS ATTACHMENT MELALUI KACAMATA TAWAKAL

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Senin, 06 April 2026 | Dibaca 21 kali
Gambar MENILIK ANXIOUS ATTACHMENT MELALUI KACAMATA TAWAKAL

Dalam diskursus psikologi modern, kita sering mendengar istilah anxious attachment, sebuah kondisi di mana seseorang memiliki kebutuhan yang sangat tinggi akan kedekatan, validasi konstan dan ketakutan yang luar biasa akan pengabaian. Bagi pemilik tipe kelekatan ini, dunia terasa seperti dermaga yang tidak stabil, mereka selalu cemas jika “kapal” yang mereka tumpangi (baik itu pasangan, teman, atau pengakuan sosial) tiba-tiba pergi meninggalkan mereka. Namun, jika kita menarik garis merah antara kegelisahan psikologis ini dengan kedalaman spiritual, kita akan menemukan sebuah konsep yang mampu menjadi jangkar bagi hati yang karam, yaitu Tawakal.

Anxious attachment sering kali berakar dari pengalaman masa lalu yang tidak konsisten. Akibatnya, individu tumbuh dengan kepercayaan bahwa rasa aman hanya bisa didapatkan dari luar diri. Hal ini menciptakan ketergantungan emosional yang melelahkan. Dalam Islam, kecenderungan untuk menggantungkan seluruh kebahagiaan dan keamanan pada makhluk disebut dengan istishraf, jiwa yang terus-menerus menanti dan berharap pada apa yang ada di tangan manusia. Di sinilah kecemasan memuncak. Karena manusia bersifat dinamis, fana dan tidak bisa diprediksi, maka menyandarkan keamanan diri pada mereka adalah resep sempurna menuju kekecewaan.

Tawakal sering disalahpahami sebagai kepasrahan yang pasif. Padahal, tawakal adalah sebuah tindakan mental yang aktif. Secara psikologis, tawakal berfungsi sebagai bentuk secure attachment (kelekatan aman) kepada Tuhan. Saat seseorang bertawakal, ia sedang memindahkan beban “control” dari pundaknya yang rapuh ke tangan Yang Maha Kuat. Al-Qur'an mengingatkan:

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq: 3)

Bagi pemilik anxious attachment, tawakal menawarkan tiga solusi fundamental, Pertama, manusia bisa berubah, namun Allah adalah Al-Baqi (Yang Maha Kekal). Menyandarkan rasa aman pada-Nya berarti membangun fondasi di atas batu karang, bukan di atas pasir yang bergeser. Kedua, kecemasan muncul karena kita merasa “memiliki” sepenuhnya. Tawakal mengajarkan konsep titipan. Jika sesuatu pergi, itu bukan karena kita tidak berharga, melainkan karena perannya dalam hidup kita telah selesai menurut ketetapan-Nya. Ketiga, orang dengan tipe anxious sering mencoba mengontrol orang lain agar tidak pergi (misalnya melalui texting berlebihan atau perilaku menyenangkan orang lain secara ekstrem). Tawakal memutus rantai kontrol ini, mengizinkan kita melakukan yang terbaik, lalu melepaskan hasilnya.

Mengobati anxious attachment melalui kacamata tawakal bukan berarti kita berhenti mencintai manusia atau menjadi antisosial. Sebaliknya, tawakal justru memampukan kita mencintai dengan lebih sehat. Ketika hati kita sudah “penuh” dan merasa aman dengan Allah, kita tidak lagi mendekati orang lain dengan mentalitas “pengemis validasi”, melainkan sebagai pribadi yang berbagi kasih sayang. Menyembuhkan luka kelekatan adalah sebuah proses panjang yang melibatkan terapi, refleksi dan waktu. Namun, menyisipkan nilai tawakal ke dalam proses penyembuhan tersebut memberikan dimensi kekuatan baru.

Tawakal adalah obat bagi jiwa yang lelah mencari dermaga pada manusia. Kita mulai memahami bahwa jika seseorang menjauh, Allah tidak pernah menjauh. Jika manusia mengecewakan, Allah selalu mendengarkan. Ia mengajak kita pulang ke satu-satunya tempat di mana pengabaian itu mustahil terjadi keharibaan sang pencipta. Pada akhirnya, bagi mereka yang berjuang dengan anxious attachment, jawaban atas kegelisahan itu bukanlah mendapatkan “jaminan” dari manusia bahwa mereka tidak akan pergi, melainkan keyakinan bahwa “apapun yang terjadi, aku akan baik-baik saja karena ada Allah bersamaku.”

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.