Opini & Artikel

MENGHIDUPKAN BUDAYA LITERASI DENGAN SPIRIT “IQRA”

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Jumat, 09 Januari 2026 | Dibaca 15 kali
Gambar MENGHIDUPKAN BUDAYA LITERASI  DENGAN SPIRIT “IQRA”

Dunia hari ini tidak sedang kekurangan informasi, melainkan sedang kebanjiran informasi. Namun, di tengah banjirnya data tersebut, kita justru sering kali terjebak dalam pendangkalan makna. Di sinilah relevansi perintah "Iqra" (Bacalah), wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW, menjadi sangat krusial untuk dikontekstualisasikan kembali sebagai fondasi literasi modern. Perintah "Iqra" dalam sejarahnya tidak turun kepada seorang pembaca teks yang mahir, melainkan kepada sosok yang ummi. Ini adalah pesan simbolis yang kuat, bahwa literasi bukan hanya tentang kemampuan teknis membaca huruf, melainkan tentang ketajaman mata hati dan akal dalam membedah fenomena. Dalam perspektif spiritual dan intelektual, spirit "Iqra" mencakup tiga dimensi penting, yaitu: Membaca Teks (Ayat Qauliyah): Mendalami literatur, data dan sejarah. Membaca Alam (Ayat Kauniyah): Mengamati gejala sosial, perubahan iklim, hingga perkembangan teknologi. Serta Membaca Diri: Refleksi atas eksistensi manusia di hadapan Sang Pencipta. Yang sering terlupakan dari perintah membaca tersebut adalah kelanjutannya: Bismi Rabbika (dengan nama Tuhanmu). Ini adalah pengunci moral dalam berliterasi.

Di era media sosial, banyak orang membaca hanya untuk mencari pembenaran atas kebenciannya, bukan mencari kebenaran. Literasi tanpa nilai ketuhanan dan kemanusiaan hanya akan melahirkan kecerdasan yang manipulatif. Spirit "Iqra" menuntut kita untuk membaca dengan niat suci, mencari ilmu demi kemaslahatan, bukan untuk menghujat atau menyebarkan hoaks. Bagi generasi hari ini, tantangannya bukan lagi akses terhadap buku, melainkan daya tahan fokus. Kita terbiasa membaca judul berita tanpa menyentuh isinya (shallow reading). Menghidupkan spirit "Iqra" berarti melatih kembali kesabaran intelektual kita. Kita perlu kembali pada budaya membaca yang mendalam (deep reading) agar tidak mudah terombang-ambing oleh narasi yang dangkal.

Menghidupkan budaya literasi dengan spirit "Iqra" adalah sebuah gerakan revolusi mental. Ia mengajak kita untuk tidak menjadi konsumen informasi yang pasif, melainkan menjadi pemikir yang kritis dan beretika. Dengan membaca "atas nama Tuhan", setiap ilmu yang kita serap akan bertransformasi menjadi amal yang bermanfaat bagi sesama. Sudah saatnya kita memulangkan Al-Qur'an ke fungsinya yang paling mendasar, sebagai penggerak akal budi dan pelita bagi peradaban yang berilmu.

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.