MENGEMAS PESAN LANGIT DENGAN BAHASA MEMBUMI
Al-Qur’an sering kali kita sebut sebagai "Kalamullah" atau Pesan Langit. Sebagai wahyu yang suci, ia membawa kebenaran absolut yang melintasi ruang dan waktu. Namun, ada satu tantangan besar yang muncul di era disrupsi informasi saat ini yaitu, bagaimana pesan yang suci dan sakral tersebut bisa tetap relevan, dipahami dan "menyentuh bumi" di tengah riuh rendah percakapan generasi milenial dan Gen Z? Sering kali, pesan agama disampaikan dengan narasi yang terlalu melangit, penuh istilah teknis teologis yang berat, atau bahkan dibawakan dengan nada yang menghakimi. Akibatnya, alih-alih menjadi petunjuk, pesan tersebut justru terasa asing bagi mereka yang sedang mencari jawaban atas persoalan hidup sehari-hari.
Jika kita menilik kembali sejarah turunnya Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa Allah SWT menyampaikan pesan-Nya dengan sangat membumi. Al-Qur’an menggunakan perumpamaan yang akrab dengan audiens saat itu, seperti: unta, pohon kurma, hingga nyamuk. Inilah bukti bahwa kebenaran yang tinggi tidak harus disampaikan dengan bahasa yang sulit dijangkau. Prinsip qaulan layyinan (perkataan yang lemah lembut) dan qaulan balighan (perkataan yang membekas pada jiwa) adalah kunci. Membumikan pesan langit berarti menerjemahkan nilai-nilai Al-Qur’an ke dalam narasi yang solutif bagi problematika modern, seperti: kesehatan mental, integritas kerja, hingga pelestarian lingkungan.
Di era media sosial, durasi perhatian (attention span) manusia semakin pendek. Pesan langit yang biasanya dikupas dalam kitab-kitab tebal kini harus bersaing dengan konten hiburan berdurasi 15 detik. Di sinilah kreativitas dibutuhkan. Membumikan pesan Al-Qur'an bukan berarti mendangkalkan maknanya. Sebaliknya, ini adalah upaya "re-packaging" atau pengemasan ulang. Nilai kejujuran dalam Al-Qur’an bisa dikemas dalam konten tentang etika berbisnis digital. Pesan kesabaran bisa dinarasikan melalui sudut pandang kesehatan mental (self-healing). Dengan bahasa yang populer dan visual yang menarik, pesan langit tidak lagi dianggap sebagai doktrin yang kaku, melainkan sebagai gaya hidup (lifestyle) yang mencerahkan.
Salah satu hambatan dalam membumikan pesan langit adalah adanya anggapan bahwa agama hanya bicara soal ritual di mesjid. Padahal, Al-Qur'an berbicara tentang segalanya. Ketika kita bicara tentang pentingnya membuang sampah pada tempatnya sebagai bentuk iman, atau menggunakan AI secara etis sebagai bentuk amanah, kita sedang membumikan pesan langit. Kita perlu menghapus sekat antara "bahasa agama" dan "bahasa dunia". Pendidikan Islam ke depan harus mampu melahirkan pendakwah dan penulis yang fasih bicara tentang ayat-ayat Tuhan sekaligus cakap bicara tentang isu-isu kemanusiaan global.
Mengemas pesan langit dengan bahasa membumi adalah tugas peradaban. Kita tidak sedang mengubah isi wahyu, karena wahyu itu abadi. Kita hanya sedang mengganti "pakaiannya" agar lebih serasi dengan tubuh zaman. Jika kita gagal membumikan pesan Al-Qur'an, kita khawatir pesan suci ini hanya akan menjadi hiasan rak buku atau sekadar dibaca tanpa makna. Sudah saatnya pesan langit turun ke pasar-pasar, ke ruang ganti atlet, ke meja-meja kantor, hingga ke layar ponsel pintar kita, membawa kedamaian yang nyata bagi penduduk bumi.