Opini & Artikel

MENEMUKAN QANAAH SEBAGAI OBAT SILENT JEALOUSY

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Senin, 03 Agustus 2026 | Dibaca 16 kali
Gambar MENEMUKAN QANAAH SEBAGAI OBAT SILENT JEALOUSY

Di era di mana pencapaian seseorang bisa disaksikan secara instan melalui garis waktu media sosial, sebuah penyakit hati purba menemukan medium barunya untuk tumbuh subur. Ia tidak bersuara, tidak berteriak dan kerap tersembunyi di balik senyum tipis atau tombol like yang kita tekan secara otomatis. Penyakit itu adalah silent jealousy, kedengkian yang mengendap rapi dalam sunyi.

Secara terminologi spiritual Islam, silent jealousy sangat erat kaitannya dengan hasad yang terselubung. Al-Qur'an secara eksplisit memperingatkan bahaya ini melalui puncaknya dalam Surah Al-Falaq ayat 5: “...dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” Menariknya, arti dari (apabila ia dengki) mengindikasikan bahwa dengki adalah energi pasif yang sewaktu-waktu bisa memercik menjadi tindakan destruktif.

Berbeda dengan kebencian terbuka, silent jealousy bekerja secara halus. Ia hadir saat kita merasa terganggu oleh keberhasilan sesama, namun terpaksa berpura-pura merayakannya demi norma sosial. Kita tidak merusak pencapaian orang lain secara fisik, tetapi di dalam hati, ada penolakan halus atas takdir yang dibagikan sang pencipta kepada orang tersebut.

Al-Qur'an merekam bahaya silent jealousy ini dalam tragedi kemanusiaan pertama: kisah Habil dan Qabil, hingga konspirasi saudara-saudara Nabi Yusuf AS. Dalam Surah Yusuf ayat 8-9, saudara-saudara Yusuf berbisik: “Pasti Yusuf dan adiknya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita...” Rasa cemburu yang awalnya dipendam dalam diam itu akhirnya menjelma menjadi keputusan kelam untuk membuang saudara sendiri ke dalam sumur. Silent jealousy jarang tetap tinggal diam, ia berakar dan perlahan meracuni cara pandang manusia terhadap sesamanya.

Akar dari dengki yang sunyi ini bukanlah keberhasilan orang lain, melainkan rasa ketidakpuasan (unfulfillment) di dalam diri sendiri yang enggan kita akuisisi. Mengapa rasa cemburu tersembunyi ini begitu mudah merayap?, karena manusia kerap mengukur harga dirinya lewat perbandingan (social comparison). Ketika orang lain melangkah lebih cepat, ego merasa terancam dan mendefinisikannya sebagai kekalahan. Silent jealousy sejatinya adalah ketidakpuasan implisit terhadap pembagian rezeki dari Sang Pencipta. Ada dorongan tersembunyi yang merasa bahwa “seharusnya saya yang mendapatkan itu, bukan dia.” Sering kali, apa yang membuat kita cemburu pada orang lain adalah refleksi dari impian atau potensi diri yang gagal kita perjuangkan.

Jika silent jealousy adalah racun yang menggerogoti ketenangan jiwa, maka Al-Qur'an dan ajaran Islam menawarkan penawar terbaiknya, yaitu sikap Qanaah, merasa cukup dan ridha atas apa yang telah dianugerahkan Allah. Qanaah sering kali disalahartikan sebagai sikap pasrah yang pasif atau kebalikan dari ambisi. Padahal, qanaah adalah bentuk kesadaran spiritual tingkat tinggi. Ia adalah kecerdasan emosional dalam menetapkan batas kepemilikan dan menghargai porsi masing-masing dalam skenario Ilahi.

Al-Qur'an mengingatkan dalam Surah An-Nisa ayat 32: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain.” Qanaah melatih kita memahami bahwa rezeki bukanlah kue terbatas yang jika diambil orang lain, maka bagian kita akan berkurang. Rezeki Allah itu tanpa batas. Keberhasilan orang lain tidak mengurangi jatah keberhasilan kita sedikit pun.

Silent jealousy membuat mata kita selalu tertuju pada halaman rumah tetangga. Qanaah menarik kembali fokus tersebut ke dalam diri, Apa yang sudah saya syukuri hari ini? Apa amanah di tangan saya yang belum saya optimalkan? Ketika hati sibuk menata nikmat sendiri, tidak ada lagi ruang tersisa untuk mencemburui nikmat orang lain.

Islam tidak melarang sepenuhnya rasa kagum atau keinginan memiliki pencapaian orang lain. Namun, Islam mengarahkannya menjadi ghibthah, keinginan untuk mendapatkan kebaikan serupa tanpa mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut. Qanaah menjaga agar keinginan tersebut tidak ternoda oleh rasa dengki, melainkan berubah menjadi doa tulus untuk kebaikan bersama. Menyembuhkan silent jealousy dengan qana'ah tidak terjadi dalam semalam. Ia memerlukan latihan kesadaran (mindfulness) dan penyucian jiwa (tazkiyatun nufus) secara konsisten.

Saat rasa cemburu itu muncul, jangan bersikap defensif. Akui di hadapan Allah bahwa ada rasa iri yang merayap, lalu mohon perlindungan-Nya (ta'awwudz). Ketika hati terasa berat melihat kesuksesan orang lain, paksa diri untuk mendoakannya secara tersembunyi. Doa rahasia adalah obat paling mujarab untuk meruntuhkan tembok kedengkian. Mengatur jarak dari media sosial atau lingkungan yang selalu memicu perbandingan destruktif adalah bentuk kasih sayang pada kesehatan jiwa sendiri.

Silent jealousy adalah beban berat yang hanya meletihkan pemiliknya. Ia seperti meminum racun lalu berharap orang lain yang merasa sakit. Dengan memeluk qanaah, kita sedang melepaskan beban yang tak perlu itu. Kita belajar percaya bahwa skenario Allah untuk setiap manusia sudah terukur dengan sempurna. Pada akhirnya, kedamaian sejati tidak ditemukan saat kita berhasil melampaui orang lain, melainkan saat hati kita mampu berkata dengan tulus “cukup untukku, dan bahagia untukmu.”

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.