Opini & Artikel

MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DI TENGAH BIAS EKSPEKTASI

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Sabtu, 14 Februari 2026 | Dibaca 19 kali
Gambar MENEMUKAN KEBAHAGIAAN DI TENGAH BIAS EKSPEKTASI

Dalam perjalanan hidup, kita sering kali merasa seperti pelari maraton yang garis finisnya terus bergeser menjauh. Kita mencapai target karier, namun merasa hampa. Kita mendapatkan barang yang diimpikan, namun kegembiraannya hanya bertahan semalam. Mengapa? Jawabannya sering kali bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada bias ekspektasi yang tanpa sadar kita pelihara. Bias ekspektasi adalah kecenderungan kognitif di mana kita memproyeksikan standar ideal ke masa depan dan meyakini bahwa kebahagiaan hanya bisa hadir jika standar tersebut terpenuhi. Kita hidup dalam diktatorisme kata "seharusnya"

Masalahnya, otak kita sangat buruk dalam memprediksi apa yang sebenarnya membuat kita bahagia (sebuah fenomena yang disebut affective forecasting). Kita sering melebih-lebihkan dampak positif dari suatu pencapaian dan mengabaikan kemampuan adaptasi kita terhadap kenyataan. Akibatnya, kita terjebak dalam siklus kekecewaan yang tak berujung.

Kita sering terjebak dalam bias bahwa kita bisa mengendalikan semua variabel dalam hidup. Kebahagiaan sering kali terhambat karena kita merasa "berhak" mendapatkan hasil tertentu karena sudah bekerja keras. Padahal, dunia tidak berutang apa pun pada kita. Melepaskan bias kendali ini adalah langkah pertama menuju ketenangan. Di era digital, ekspektasi kita tidak lagi lahir dari kebutuhan pribadi, melainkan dari standar hidup orang lain yang kita lihat di layar. Kita mengalami bias ketersediaan, karena kita sering melihat kesuksesan orang lain, kita berekspektasi bahwa sukses itu mudah dan harus terjadi sekarang juga.

Untuk keluar dari jebakan ini, kita tidak perlu membuang semua ambisi, melainkan mengubah cara kita berhubungan dengan hasil. Pertama, ekspektasi menuntut dunia menyesuaikan diri dengan keinginan kita, sedangkan apresiasi adalah cara kita menyesuaikan diri dengan keindahan yang sudah ada. Kedua, fokuslah pada sistem dan perilaku yang bisa kita kendalikan. Jika menikmati prosesnya, hasil akhir hanyalah bonus, bukan penentu harga diri. Ketiga, bias ekspektasi selalu mendorong kita pada "lebih". Menemukan titik "cukup" adalah bentuk pemberontakan paling radikal terhadap ketidakpuasan yang terus-menerus.

Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dengan cara memaksa realitas agar selaras dengan imajinasi kita. Ia ditemukan saat kita mampu menurunkan volume ekspektasi dan meningkatkan volume penerimaan. Bahagia itu sederhana, yang rumit adalah ekspektasi kita tentang bagaimana cara menjadi bahagia. Dunia mungkin tidak pernah menjadi tempat yang sempurna sesuai skenario di kepala, tetapi dunia selalu memberikan celah untuk disyukuri jika berhenti menuntutnya menjadi sempurna. Bahagia itu sederhana; yang rumit adalah syarat-syarat yang kita buat sendiri untuk mencapainya.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.