MENCIPTAKAN MADRASAH YANG DIRINDUKAN: SAAT CINTA MENJADI BAHASA UTAMA
Di tengah arus modernisasi yang menuntut serba cepat dan serba angka, madrasah berdiri sebagai benteng terakhir yang menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual (fikriyyah) dan kemuliaan akhlak (khuluqiyyah). Namun, seringkali kita terjebak pada formalitas kurikulum yang kaku. Kita lupa bahwa pondasi utama dari sebuah bangunan pendidikan Islam adalah Mahabbah atau cinta. Untuk menciptakan madrasah yang dirindukan, sebuah tempat di mana santri atau siswa merasa berat untuk melangkah pulang, maka kita harus menjadikan cinta sebagai "bahasa ibu" dalam setiap interaksi di dalamnya.
Kata "Madrasah" secara etimologis berarti tempat belajar. Namun, dalam tradisi Islam, ia adalah tempat menyemai benih-benih fitrah. Jika Allah SWT memulai setiap langkah ibadah kita dengan kalimat Bismillahirrahmanirrahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), maka madrasah pun harus dimulai dan dijalankan dengan semangat yang sama. Pendidikan berbasis cinta di madrasah adalah pengejawantahan dari pesan Rasulullah saw.:
"Tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali ia akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu kecuali akan memperburuknya." (HR. Muslim).
Guru sebagai "Murobbi" Jiwa, bukan sekadar pengajar di madrasah yang dirindukan, guru tidak hanya hadir sebagai penyampai materi kitab atau buku teks. Ia hadir sebagai Murobbi, sosok yang mengasuh jiwa. Ia mencintai muridnya karena Allah, melihat mereka sebagai titipan berharga, bukan sebagai beban administratif. Saat guru mengajar dengan hati, maka ilmu akan sampai ke hati. Adab di atas nilai angka Sekolah konvensional mungkin mengejar juara kelas, namun madrasah yang dirindukan mengejar keberkahan ilmu. Cinta di sini bermanifestasi dalam bentuk adab. Ketika seorang guru memperlakukan muridnya dengan hormat dan penuh kasih, murid akan membalasnya dengan ta’zim (penghormatan) yang tulus, bukan karena takut dihukum. Lingkungan yang merangkul fitrah Madrasah harus menjadi ruang yang aman bagi santri untuk salah dan belajar dari kesalahannya. Cinta berarti memberikan kesempatan kedua. Sebagaimana Al-Qur'an menggambarkan Allah yang Maha Pengampun, madrasah pun harus memiliki atmosfer pemaafan dan bimbingan, bukan penghakiman yang mematahkan semangat.
Cara menerjemahkan cinta menjadi bahasa utama di madrasah, di antaranya ialah: Pertama, sisihkan waktu di sela hafalan atau pelajaran untuk berdialog dari hati ke hati. Tanyakan kegelisahan mereka, mimpi mereka, dan doakan mereka secara spesifik di depan mereka. Kedua, saat santri melakukan kesalahan, teguran diberikan secara personal dan lembut (seperti nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya), bukan dipermalukan di depan umum. Ketiga, pastikan setiap anak merasa "terlihat". Pujian tulus atas usaha mereka, sekecil apa pun itu, adalah nutrisi bagi jiwa yang sedang tumbuh.
Madrasah yang dirindukan akan melahirkan lulusan yang tidak hanya hafal dalil, tetapi juga mampu mempraktikkan kasih sayang kepada sesama makhluk. Mereka akan mengenang madrasah bukan sebagai penjara penuh aturan, melainkan sebagai taman tempat mereka menemukan jati diri dan merasakan cinta Sang Pencipta melalui perantara guru-gurunya. Ketika cinta sudah menjadi bahasa utama, maka Madrasah bukan lagi sekadar institusi, ia akan menjadi Baitii Jannatii (Rumahku Surgaku) bagi setiap pencari ilmu.