Opini & Artikel

MEMBASUH JIWA YANG LELAH DI TELAGA RAMADAN

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Jumat, 20 Februari 2026 | Dibaca 21 kali
Gambar MEMBASUH JIWA YANG LELAH DI TELAGA RAMADAN

Dunia modern adalah mesin yang menuntut kita untuk terus berlari. Kita dipaksa berkompetisi dengan waktu, ekspektasi sosial, hingga riuhnya notifikasi di layar gawai. Tanpa disadari, di balik pencapaian dan hiruk-pikuk itu, ada jiwa yang sering kali merasa gersang, berdebu dan kelelahan. Di titik nadir kejenuhan inilah, Ramadan datang bukan sebagai beban kewajiban, melainkan sebagai sebuah telaga yang jernih untuk membasuh jiwa. Ramadan adalah interupsi suci dalam siklus hidup kita yang monoton. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga senja. Lebih dari itu, puasa adalah proses "detoksifikasi" ruhani. Ketika perut dikosongkan, ruang di dalam batin justru menjadi lebih lapang untuk diisi dengan zikir dan perenungan.

Menjeda dari kesibukan konsumsi, baik konsumsi makanan maupun konsumsi informasi, memberi kesempatan bagi jiwa untuk bernapas kembali. Di telaga Ramadan, kita diajak untuk berhenti sejenak dari mengejar yang "di luar" (materi dan validasi) untuk mulai menengok yang "di dalam" (hati dan nurani). Sepanjang sebelas bulan, jiwa kita mungkin telah terkontaminasi oleh berbagai penyakit hati, seperti: rasa iri yang menggerogoti, amarah yang meledak, hingga kesombongan yang halus. Debu-debu duniawi ini membuat pandangan batin kita menjadi buram. Ibadah di bulan Ramadan mulai dari shalat tarawih yang syahdu, tadarus Al-Qur'an yang menenangkan, hingga keheningan di sepertiga malam adalah cara kita membasuh kotoran tersebut. Air wudu yang membasuh wajah, dibarengi dengan air mata penyesalan dalam sujud, adalah kombinasi pembersih jiwa yang paling mujarab. Di telaga ini, setiap mukmin memiliki kesempatan untuk "pulang" ke fitrahnya yang bersih.

Banyak dari kita yang merasa lelah bukan karena kurang tidur, tapi karena kurang kedekatan dengan Sang Pencipta. Ramadan menawarkan kemudahan akses untuk kembali "terkoneksi". Saat kita merasakan lapar yang sama dengan mereka yang kekurangan, muncul rasa empati yang melembutkan hati yang keras. Saat kita menahan lisan dari ghibah, muncul ketenangan karena terhindar dari konflik. Afirmasi utama di bulan ini adalah: "Aku sedang menyembuhkan jiwaku." Setiap detik di bulan Ramadan adalah obat bagi batin yang sedang terluka oleh kerasnya kehidupan. Pada akhirnya, tujuan kita berlama-lama di telaga Ramadan bukanlah untuk sekadar basah, melainkan untuk keluar sebagai pribadi yang benar-benar segar. Jiwa yang telah dibasuh akan memiliki daya tahan lebih kuat saat nantinya harus kembali menghadapi hiruk-pikuk dunia pasca-lebaran. Ramadan adalah anugerah bagi mereka yang merasa lelah. Mari kita selami telaga ini dengan penuh kesadaran, membiarkan setiap tetes keberkahannya meresap ke dalam pori-pori iman kita, hingga jiwa kita kembali tegak, bersinar dan siap berkarya kembali untuk sesama dan bangsa.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.