Opini & Artikel

MEMAHAMI BATAS KEPERCAYAAN ANTARA KETULUSAN DAN PERTAHANAN DIRI

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Jumat, 06 Maret 2026 | Dibaca 5 kali
Gambar MEMAHAMI BATAS KEPERCAYAAN ANTARA KETULUSAN DAN PERTAHANAN DIRI

Kepercayaan adalah mata uang paling mahal dalam hubungan manusia. Berbeda dengan uang kertas yang bisa dicetak ulang oleh bank sentral, kepercayaan yang sudah “inflasi” akibat kebohongan atau hancur karena pengkhianatan hampir mustahil untuk kembali ke nilai semula. Namun, masalah terbesarnya bukan pada pengkhianatan itu sendiri, melainkan pada ketidakmampuan kita dalam menetapkan garis batas. Seringkali kita memberikan kepercayaan secara total kepada seseorang hanya karena kedekatan emosional. Kita menganggap bahwa mencintai atau berteman berarti harus percaya 100%. Padahal, memberikan kepercayaan tanpa batas adalah bentuk kelalaian terhadap diri sendiri. Kepercayaan seharusnya diberikan secara bertahap (incremental). Ia adalah sebuah bangunan yang disusun bata demi bata, bukan sebuah gedung yang langsung jadi dalam semalam. Memahami batas berarti menyadari bahwa setiap orang memiliki kapasitas untuk mengecewakan, baik sengaja maupun tidak.

Batas kepercayaan seringkali ditentukan oleh apa yang kita sebut sebagai intuisi atau gut feeling. Ketika seseorang mulai menunjukkan ketidaksinkronan antara ucapan dan tindakan, itulah saatnya kita menarik sedikit garis batas tersebut. Menjadi waspada bukan berarti kita penuh prasangka, melainkan sedang melakukan mitigasi risiko emosional. Mengapa kita perlu terluka untuk memahami batas? Karena luka memberi tahu kita di mana “pagar” kita seharusnya berdiri. Tanpa rasa perih akibat dikhianati, kita tidak akan pernah tahu kapan harus berkata “cukup”. Luka adalah guru yang kasar, namun ia sangat jujur dalam mengajarkan kita untuk tidak memberikan kunci rumah hati kita kepada sembarang orang. Memahami batas kepercayaan adalah tentang keseimbangan. Kita tidak boleh menjadi paranoid dan membangun tembok besi yang tinggi, namun kita juga tidak boleh membiarkan pintu kita terbuka lebar tanpa penjagaan. Batas itu ada bukan untuk menjauhkan orang lain, melainkan untuk memastikan bahwa siapa pun yang masuk ke dalam lingkaran terdalam kita adalah mereka yang memang layak berada di sana.

"Kepercayaan yang sehat tidak lahir dari kenaifan, melainkan dari keberanian untuk tetap membuka diri sambil tetap memegang kendali atas keamanan hati sendiri."

 

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.