Opini & Artikel

MELAWAN DIRI SENDIRI, MEMENANGKAN KEDAMAIAN HATI

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Senin, 16 Maret 2026 | Dibaca 20 kali
Gambar MELAWAN DIRI SENDIRI, MEMENANGKAN KEDAMAIAN HATI

Bagi banyak orang, puasa sering kali dipahami sekadar sebagai ritual menahan makan dan minum dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari. Namun, jika kita mau sedikit saja mengintip ke balik tirai ritual fisik tersebut, kita akan menemukan bahwa puasa sebenarnya adalah sebuah medan perang. Musuh yang paling tangguh di medan perang ini bukanlah lapar atau haus, melainkan diri kita sendiri. Kemenangan yang sering kita rayakan setelah sebulan penuh berpuasa seharusnya bukan sekadar keberhasilan menahan diri dari godaan kuliner atau menahan amarah di jalanan. Kemenangan sesungguhnya adalah ketika kita berhasil menaklukkan “aku” yang impulsif, egois dan penuh tuntutan.

Dalam keseharian, kita terbiasa hidup dengan narasi bahwa kebahagiaan adalah tentang pemenuhan keinginan. Ketika lelah, kita ingin istirahat. Ketika bosan, kita ingin hiburan instan. Ketika terusik, kita ingin membalas. Puasa memutus rantai narasi tersebut. Ia memaksa kita untuk berhenti sejenak dan berkata pada diri sendiri: “Bukan hari ini, dan bukan dengan cara ini.” Proses “melawan diri sendiri” ini memang melelahkan. Ada ego yang meronta saat kita dipaksa bersabar menghadapi situasi yang tidak ideal. Ada keinginan untuk memvalidasi diri yang harus ditekan demi menjaga lisan. Namun, justru dalam gesekan antara keinginan diri dan batasan itulah, ruang untuk kedamaian tercipta.

Saat kita berhenti menuruti setiap bisikan ego, kita mulai belajar untuk menerima. Kita belajar bahwa dunia tidak harus selalu berjalan sesuai keinginan kita agar kita bisa tetap merasa tenang. Inilah inti dari kemenangan hati. Kedamaian tidak lagi bergantung pada situasi eksternal yang sempurna, melainkan pada kemampuan kita untuk tetap stabil di tengah ketidaksempurnaan. Pada akhirnya, puasa mengajarkan kita sebuah seni paradoksal, bahwa kita baru benar-benar menang saat kita mampu mengalah pada ego. Setelah sebulan penuh berlatih menjinakkan diri sendiri, kita tidak hanya menjadi pribadi yang lebih sabar, tetapi juga menjadi manusia yang lebih bebas, bebas dari penjara keinginan yang tak ada habisnya. Kemenangan sejati bukanlah saat kita berhasil menaklukkan orang lain, melainkan saat kita bisa menatap cermin di akhir Ramadan dan menyadari bahwa kita telah menjadi versi yang lebih damai dari diri kita yang sebelumnya.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.