Opini & Artikel

KETIKA PANGGUNG KONSTITUSI DINODAI DRAMA MANIPULASI

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Kamis, 14 Mei 2026 | Dibaca 26 kali
Gambar KETIKA PANGGUNG KONSTITUSI DINODAI DRAMA MANIPULASI

Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar yang diselenggarakan oleh MPR RI seharusnya menjadi etalase moral bagi generasi muda. Di sana, pasal-pasal UUD 1945 dan butir-butir Pancasila bukan sekadar dihafalkan, melainkan diuji sebagai pedoman hidup berbangsa. Namun, kasus yang menimpa Ocha, murid asal Kalimantan Barat, telah mengoyak tirai megah tersebut dan mempertontonkan sebuah ironi yang menyesakkan. Di panggung tempat konstitusi dijunjung, kejujuran justru diduga ditumbangkan oleh manipulasi.

Sangat menyakitkan melihat seorang pelajar yang datang dari daerah dengan bekal kecerdasan dan harapan, harus berhadapan dengan tembok tebal ketidakadilan. Ketika jawaban yang benar secara substantif dianulir atau ketika poin-poin berpindah dengan logika yang sulit diterima akal sehat, kita sedang menyaksikan kematian sportivitas.

Institusi sekelas MPR RI yang merupakan pengawal konstitusi, seharusnya menjadi teladan paling depan dalam hal akuntabilitas. Jika dalam sebuah lomba tingkat pelajar saja transparansi bisa dikalahkan oleh “drama” penjurian, lantas pesan apa yang sedang kita kirimkan kepada generasi penerus? Kita seolah sedang membisikkan bahwa: “Hafalkanlah keadilan, tapi bersiaplah menghadapi kecurangan.”

Dampak dari insiden ini jauh lebih luas daripada sekadar urusan kalah atau menang. Viralnya kasus ini adalah bentuk perlawanan rakyat terhadap kesewenang-wenangan di dunia pendidikan. Media sosial telah menjadi “mahkamah” bagi mereka yang tidak memiliki akses untuk menggugat keputusan juri yang dianggap pincang. Solidaritas untuk Ocha adalah sinyal kuat bahwa publik Indonesia tidak lagi bisa ditipu oleh retorika-retorika formalitas.

Pihak penyelenggara tidak bisa hanya diam atau memberikan jawaban diplomatis. Dibutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan, melakukan penghitungan ulang yang transparan dan mengevaluasi total sistem penjurian. Mengakui kesalahan tidak akan meruntuhkan marwah MPR, justru membiarkan ketidakadilan tetap tegak yang akan menghancurkannya.

Kejadian ini harus menjadi momentum perbaikan bagi semua pihak. LCC MPR harus kembali ke khitahnya sebagai ajang pemersatu dan pembentuk karakter, bukan sekadar seremoni tahunan yang menyisakan luka bagi pesertanya.

Kepada Ocha dan seluruh murid yang merasa tercurangi, ketahuilah bahwa integritas yang kalian pertahankan jauh lebih berharga daripada piala berlapis emas mana pun. Sebab, bangsa ini tidak hanya butuh anak muda yang cerdas menghafal undang-undang, tetapi juga anak muda yang memiliki keberanian untuk berdiri tegak melawan manipulasi, meski di panggung tertinggi sekalipun.

Konstitusi adalah janji keadilan. Menodai lomba konstitusi dengan manipulasi adalah bentuk pengkhianatan terhadap janji tersebut. Kita tidak butuh generasi yang hanya jago menghafal pasal, tapi kita butuh sistem yang menghargai mereka yang berjuang dengan cara yang benar.

Jangan biarkan air mata Ocha menjadi simbol runtuhnya integritas di rumah para wakil rakyat. Kembalikan marwah panggung itu atau hapus saja kata “cerdas” dan “cermat” jika pada akhirnya yang menang adalah mereka yang mahir bersiasat.

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.