Opini & Artikel

KETIKA ANXIETY MENYAPA

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Sabtu, 23 Mei 2026 | Dibaca 20 kali
Gambar KETIKA ANXIETY MENYAPA

Di panggung kehidupan modern yang serba cepat, kompetitif dan menuntut kesempurnaan, ada satu bayangan yang hampir pasti pernah singgah di benak setiap orang, yaitu kecemasan. Saat ini, anxiety bukan lagi sekadar istilah klinis yang asing. Ia telah bertransformasi menjadi bagian dari realitas keseharian, sebuah perasaan tidak nyaman, debaran jantung yang tak beraturan, atau riuh rendah pikiran yang mencemaskan masa depan yang bahkan belum terjadi.

Ketika anxiety menyapa dalam kehidupan, respons pertama kita sering kali adalah menolak, merasa bersalah, atau menganggapnya sebagai tanda kegagalan diri. Namun, benarkah kecemasan adalah musuh yang harus diperangi habis-habisan? ataukah ia justru sebuah sinyal jujur dari kemanusiaan kita?

Salah satu tantangan terbesar ketika menghadapi kecemasan di lingkungan masyarakat kita adalah adanya simplifikasi masalah. Kerap kali, seseorang yang sedang berjuang dengan anxiety atau serangan panik mendapatkan penghakiman spiritual seperti, “Kamu kurang ibadah,” atau “Imanmu sedang tipis.” Pandangan ini tidak hanya keliru, tetapi juga berbahaya karena menambah beban rasa bersalah di atas pundak yang sudah lelah

Jika kita merujuk pada Al-Qur'an dan sejarah para nabi, kita akan menemukan bahwa rasa takut dan cemas adalah emosi yang sangat manusiawi. Nabi Ya’qub AS mengalami kesedihan dan kecemasan mendalam hingga matanya memutih karena kehilangan Yusuf. Ibunda Nabi Musa AS merasakan kekosongan jiwa dan kecemasan luar biasa saat harus menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil. Allah tidak mencela emosi tersebut, Allah justru memvalidasinya. Menjadi religius bukan berarti kita otomatis menjadi kebal dari rasa takut dan cemas, melainkan memiliki tempat spiritual untuk kembali ketika rasa itu datang.

Kecemasan sering kali lahir dari ilusi kontrol. Kita hidup di dunia di mana kita merasa harus mengendalikan segalanya baik itu dari segi karier, masa depan, opini orang lain, hingga kepastian hidup. Ketika realitas menunjukkan bahwa kita tidak seberkuasa itu, anxiety pun mengetuk pintu. Namun, jika dilihat dari sudut pandang reflektif, anxiety yang menyapa kehidupan sebenarnya bisa menjadi “alarm” yang berguna. Ia datang untuk memberi tahu bahwa kita mungkin terlalu memaksakan diri melampaui batas kapasitas manusiawi kita. Kecemasan memaksa kita berhenti sejenak dari hiruk-piruk duniawi dan mengevaluasi kembali apa yang benar-benar esensial dalam hidup.

Kehidupan yang utuh membutuhkan penyelesaian yang seimbang. Menghadapi anxiety tidak bisa hanya dengan salah satu jalur; kita membutuhkan sinergi antara ikhtiar lahiriah (sains/psikologi) dan batiniah (spiritual). Al-Qur'an mengajarkan kita untuk menggunakan akal dan ilmu. Ketika kecemasan mengganggu fungsi hidup sehari-hari, berkonsultasi ke psikolog atau psikiater adalah bentuk ikhtiar yang mulia. Mengatur napas, membatasi paparan media sosial dan menerapkan mindfulness adalah langkah nyata untuk menenangkan sistem saraf tubuh yang sedang dalam mode “bertahan hidup”.

Kemudian ayat-ayat Allah bekerja sebagai terapi kognitif spiritual. Mengingat kembali janji Allah dalam Surah Al-Insyirah ayat 5-6 bahwa “beserta kesulitan ada kemudahan” membantu meredistribusi beban pikiran kita. Shalat dan sujud bukan lagi sekadar rutinitas menggugurkan kewajiban, melainkan momen penyerahan total (tawakkal). Kita melepaskan kendali yang memang bukan milik kita dan menitipkannya kepada Yang Maha Memegang Kendali.

Ketika anxiety menyapa dalam kehidupan, jangan memandang dirimu sebagai produk gagal atau hamba yang terbuang. Sambutlah rasa itu dengan welas asih kepada diri sendiri (self-compassion). Kecerobohan terbesar kita adalah ketika kita mencoba menjadi tuhan bagi hidup kita sendiri dengan mencemaskan segala hal yang gaib di masa depan.

Al-Qur'an tidak diturunkan untuk menghapus dinamika emosi manusia, melainkan untuk menjadi jangkar agar ketika ombak kecemasan itu datang menghantam, kapal kehidupan kita goyang, namun tidak akan pernah karam. Anxiety adalah pengingat lembut bahwa kita hanyalah manusia atau makhluk yang lemah, terbatas, namun selalu punya tempat untuk bersandar.

 

 

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.