Kebiasaan Ramadhan Ketika Masa Kecil yang Membuat Rindu
Masa kecil menjadi periode waktu yang sangat menyenangkan bila diingat. Kekonyolan tingkah laku, keriangan bersama teman, dan hidup yang seolah tanpa beban, membuat kenangan masa kecil yang selalu dirindukan. Kebiasaan-kebiasaan ketika masa kecil yang takkan pernah saya lupakan di antaranya :
1) Acara sahur yang menghibur
Acara sahur memang masih ada sampai sekarang. Namun, acara sahur favorit saya adalah "Sahur Kita" yang tayang di stasiun televisi SCTV. Acara ini dipandu oleh komedian Eko Patrio dan Ulfa Dwiyanti. Meski hanya berdua, namun duo super kocak itu mampu membuat suasana sahur di rumah menjadi "hidup". Berbagai segmen yang dihadirkan mampu membuat penonton terpingkal. Berbeda dengan acara sahur belakangan yang ditonton oleh banyak orang di studio, "Sahur Kita" hanya melakukan interaksi dengan penonton di rumah melalui telepon. Pada segmen lomba pantun penonton, kelucuan Eko-Ulfa sebagai pelawak top Tanah Air pada era itu, lolos teruji. Lomba pantun yang digelar bukan sembarang pantun. Sering kali penelepon berpantun sambil menggunakan alat-alat dapur seperti panci, dandang, piring, dan gelas untuk menambah semarak agar bisa menang.
2) Shalat Subuh berjamaah di mesjid bersama teman
Setelah Imsak, banyak anak-anak yang tumbuh di era 90-an atau 2000-an yang shalat Subuh di mesjid. Kebanyakan anak-anak pada zaman itu tidak memiliki HP. Hal itulah yang pernah saya rasakan ketika kecil. Jadi, janji yang dibuat untuk shalat Subuh bersama, biasanya dilakukan sehari sebelumnya. Si A ke rumah si B, si A dan B ke rumah C, begitu seterusnya.
3) Bermain setelah shalat Subuh
Pada era kepemimpinan Gus Dur tahun 1999, anak-anak sekolah diliburkan selama sebulan penuh saat Ramadhan. Saya dan juga pembaca (yang saat itu masih anak-anak), mungkin menghabiskan sebagian masa libur Ramadhan ini dengan banyak bermain. Termasuk saya dan teman-teman dulu. Kami bermain setelah shalat Subuh. Entah itu berjalan-jalan pagi di sekitar lingkungan rumah, bermain bola bekel, orang-orangan kertas, hingga monopoli. Libur Ramadhan zaman almarhum Gus Dur pasti menjadi salah satu kenangan seru bulan puasa saat kecil.
4) Mengisi buku agenda Ramadhan
Anak-anak sekolah selalu diberi buku agenda Ramadhan. Buku tersebut harus diisi setiap hari. Ada banyak kolom yang harus dicentang atau disilang, mulai dari shalat lima waktu, berpuasa atau tidak, baca Al-Qur’an atau tidak, hingga Tarawih atau tidak. Jika si anak Tarawih, maka harus memberikan bukti berupa tanda tangan imam atau penceramah saat Tarawih. Bukan cuma itu, anak-anak pun harus menulis judul ceramah dan isi pokok ceramah. Buku agenda Ramadhan itu juga harus ditandatangani oleh orang tua. Hal demikian pernah saya rasakan dan takkan pernah terlupakan
5) Sinetron Ramadhan
Ramadhan juga banyak diisi oleh sinetron-sinetron bertema Islami. Beberapa judul sinetron Ramadhan yang fenomenal pada masanya di antaranya "Doaku Harapanku", "Doa Membawa Berkah", "Hikmah", "Ikhlas", "Lorong Waktu", dan "Para Pencari Tuhan". Kebanyakan sinetron Ramadhan, tayang sebelum azan Maghrib. Saya pun juga masih ingat beberapa pemain sinetronnya, di antaranya ada wajah Krisdayanti, Tamara Bleszynski, hingga Zaskia Adya Mecca di layar kaca untuk menemani waktu ngabuburit bersama keluarga.
6) Tarawih bersama teman
Alih-alih Tarawih bersama keluarga, anak-anak zaman dulu lebih sering Tarawih bersama teman-teman. Bukannya khusyuk shalat, banyak anak-anak justru bercanda, termasuk saya (jangan ditiru). Saya ingat, di mesjid tempat saya Tarawih dulu, ada penjaga masjid yang berkeliling membawa sajadah. Dengan sajadah itu, beliau akan menakut-nakuti dengan sabetan kecil terhadap anak-anak yang membuat gaduh. Setiap kali sosoknya melintas, anak-anak yang tadinya berisik mendadak diam., termasuk saya sendiri.
7) Bermain petasan
Pada Ramadhan belakangan ini, bunyi ledakan petasan jarang terdengar. Mungkin karena saat ini sudah banyak larangan untuk menyalakan petasan. Ditambah lagi, mobile game kini agaknya lebih menarik anak-anak ketimbang bermain petasan yang membuat bising. Sangat berbeda dengan zaman dulu, di mana Ramadhan menjadi "kesempatan" untuk meledakkan petasan yang suaranya tak jarang membuat telinga sakit. Aneka macam petasan pun banyak dijual. Ada petasan cabe rawit, petasan banting, petasan kentut, petasan air mancur, dan petasan gasing. Semuanya pernah juga saya mainkan.
Saat itu, semuanya terasa seru. Ramadhan selalu menjadi bulan istimewa. Istimewa karena pahala yang diberikan oleh Allah SWT dalam setiap kebaikan/ibadah berkali lipat, juga karena di Ramadhan ada keseruan masa kecil yang kini hanya bisa dikenang.