Opini & Artikel

KARHUTLA SEBAGAI UNDANGAN BERBENAH: KETIKA ALAM MENYAPA LEWAT TEGURAN

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Minggu, 30 Agustus 2026 | Dibaca 5 kali
Gambar KARHUTLA SEBAGAI UNDANGAN BERBENAH: KETIKA ALAM MENYAPA LEWAT TEGURAN

Tatkala musim kemarau menyapa, ada bayang-bayang kelam yang kerap kembali menghampiri sebagian wilayah. Udara segar yang seharusnya menjadi hak mendasar setiap insan lambat laun tergantikan oleh aroma sangit yang menyengat. Langit biru yang lapang bertransisi menjadi kekuningan, hingga akhirnya tertutup pekatnya kabut abu-abu. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan lagi sekadar fenomena alam tahunan, melainkan sebuah tragedi berulang yang memaksa kita untuk berhenti sejenak, menghentikan deru rutinitas dan menghirup napas, meski terasa sesak untuk melakukan perenungan yang mendalam.

Secara kasat mata, karhutla kerap dibedah melalui kacamata data, statistik ekologis, kerugian ekonomi, hingga dampak kesehatan masyarakat. Namun, jika kita bersedia menyelam lebih dalam melebihi hitungan angka dan argumentasi teknis, karhutla pada hakikatnya adalah sebuah cermin besar. Cermin yang memantulkan kembali bagaimana relasi manusia dengan lingkungannya, serta sejauh mana kita telah menjaga amanah atas bumi yang kita pijak.

Dalam perspektif spiritual dan kesadaran ekologis, alam tidak pernah diam. Ia berkomunikasi melalui bahasa-bahasanya sendiri. Ketika alam memberikan kelimpahan, ia sedang menyapa dengan kasih sayang. Namun, ketika keseimbangannya terganggu akibat serangkaian keserakahan, kelalaian dan eksploitasi tanpa kendali, alam menyapa kita melalui cara yang lain, yaitu teguran.

Asap pekat yang membumbung tinggi dan mengurung pemukiman warga sejatinya adalah isyarat bahwa ada hal mendasar yang sedang tidak baik-baik saja. Teguran ini tidak hadir untuk menghancurkan, melainkan untuk membangunkan manusia dari tidur panjang ketidakpedulian. Ketika jarak pandang terbatas dan napas terasa berat, kita diajak menyadari betapa ringkihnya manusia di hadapan hukum alam. Seluruh kehebatan teknologi dan kemajuan zaman seolah tak berdaya ketika udara bersih yang gratis itu tiba-tiba tersenggut oleh asap.

Bagi masyarakat yang terdampak langsung, karhutla adalah ruang ujian kesabaran yang sangat nyata. Sabar di sini bukan berarti pasrah tanpa daya atau menerima keadaan dengan sikap apatis. Kesabaran dalam menghadapi musibah karhutla adalah ketangguhan mental dan spiritual untuk tetap menjaga asa, saling menopang satu sama lain, serta tidak kehilangan kebaikan di tengah situasi yang serba menyulitkan.

Namun, di samping kesabaran, ada tuntutan lain yang tak kalah penting, yaitu muhasabah, introspeksi diri secara kolektif. Kita perlu bertanya pada nurani masing-masing, Sejauh mana partisipasi kita dalam merawat bumi? Apakah tindakan kita sehari-hari, baik secara langsung maupun tidak langsung, turut berkontribusi pada kerusakan lingkungan?

Muhasabah mengajarkan kita untuk tidak sekadar menuding jari ke luar, tetapi juga melihat ke dalam. Kebakaran yang terjadi di lahan gambut dan kawasan hutan sering kali bersumber dari “kebakaran” yang lebih dulu terjadi di dalam hati manusia, yaitu hilangnya rasa hormat terhadap alam, menggebu-gebunya nafsu untuk menguasai tanpa batas, serta pengabaian terhadap etika pelestarian.

Sebuah teguran hanya akan menjadi ikhtiar yang sia-sia jika tidak direspons dengan perubahan sikap. Oleh karena itu, sudah saatnya kita menggeser sudut pandang dalam melihat bencana ini. Karhutla jangan hanya ditangisi sebagai musibah tahunan, tetapi harus dimaknai sebagai undangan terbuka untuk berbenah. Undangan berbenah ini berlaku bagi semua lini, di antaranya:

Ø    Mengembangkan etika lingkungan berbasis empati. Menyadari bahwa setiap keputusan kecil kita, mulai dari cara mengelola sampah, menjaga lahan, hingga mengedukasi keluarga memiliki dampak pada ekosistem yang lebih luas.

Ø    Berbenah tanggung jawab kolektif. Memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial. Masyarakat, komunitas dan elemen sipil harus bahu-membahu menanamkan budaya menjaga lingkungan serta saling menguatkan saat bencana melanda.

Ø    Berbenah kebijakan dan komitmen. Mendorong tata kelola lingkungan yang lebih bijaksana, tegas dan berorientasi jangka panjang. Pemulihan kawasan gambut dan perlindungan hutan harus menjadi prioritas nyata yang berkelanjutan, bukan sekadar pemadam kebakaran saat titik api mulai membesar.

Di balik pekatnya kabut asap, selalu ada harapan akan datangnya hujan yang membersihkan udara. Namun, kita tidak bisa hanya menunggu hujan dari langit tanpa melakukan pembenahan di bumi. Asap karhutla memang menyisakan pedih dan duka, tetapi ia juga meninggalkan pelajaran berharga tentang kerendahan hati dan pentingnya menjaga keseimbangan hidup.

Semoga lewat teguran alam ini, hati kita tidak ikut terhalang oleh pekatnya asap ketidakpedulian. Mari menyambut undangan berbenah ini dengan langkah nyata, yaitu merawat tanah, melindungi hutan dan menjaga nurani agar bumi tempat kita berpijak tetap menjadi rumah yang ramah dan aman bagi generasi hari ini dan masa depan.

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.