Opini & Artikel

FILOSOFI AKAR: BEKERJA DALAM DIAM, MENGUATKAN TANPA HARUS TERLIHAT

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Senin, 26 Januari 2026 | Dibaca 4 kali
Gambar FILOSOFI AKAR: BEKERJA DALAM DIAM, MENGUATKAN TANPA HARUS TERLIHAT

Dalam ekosistem kehidupan, kita sering kali terpaku pada keindahan bunga yang mekar, rimbunnya dedaunan, atau kokohnya batang pohon. Kita memuji apa yang tertangkap oleh mata. Namun, kita sering melupakan bagian yang paling krusial, yang terkubur dalam kegelapan tanah, kotor dan tak pernah disanjung. Filosofi akar adalah antitesis dari budaya pamer (flexing) yang menjangkiti dunia modern. Ia mengajarkan kita tentang sebuah nilai yang mulai pudar, yaitu kekuatan dalam kesunyian. Akar tidak pernah menuntut untuk diletakkan di dalam vas bunga yang indah. Dalam kehidupan sosial, banyak "manusia akar" di sekitar kita. Mereka adalah para pekerja di balik layar, ibu rumah tangga yang memastikan harmoni keluarga, atau relawan yang bergerak tanpa kamera. Mereka bekerja bukan untuk tepuk tangan, melainkan "pohon" kehidupan, baik itu organisasi, keluarga, atau Negara, tetap bisa berdiri tegak dan tumbuh tinggi.

Ketika badai menerjang, yang diuji bukanlah kekuatan dahan atau keindahan bunga, melainkan seberapa dalam akar mencengkeram bumi. Sebuah pohon bisa kehilangan seluruh daunnya, namun selama akarnya kuat, ia akan kembali bertunas. Ini mengajarkan kita bahwa karakter seseorang dibangun di tempat-tempat tersembunyi. Kekuatan mental dan integritas kita tidak dibentuk saat kita sedang bersinar di bawah lampu panggung, melainkan saat kita sendirian, saat kita menghadapi kesulitan yang tidak diketahui orang lain dan saat kita tetap memilih untuk jujur meskipun tidak ada yang mengawasi. Akar bekerja dengan sangat giat. Ia menembus bebatuan, mencari sumber air dan menyerap nutrisi untuk didistribusikan ke seluruh bagian pohon. Ia bekerja keras, tetapi ia melakukan semuanya tanpa suara.

Dunia saat ini sering kali memaksa kita untuk "berisik" agar dianggap bekerja. Namun, filosofi akar mengingatkan bahwa efektivitas tidak selalu berbanding lurus dengan popularitas. Hasil yang nyata (buah yang manis dan dahan yang rimbun) adalah bukti yang lebih kuat daripada sekadar kata-kata atau pengumuman tentang kerja keras kita. Menjadi seperti akar memang tidak mudah. Ego manusia secara alami haus akan pengakuan. Namun, ada kedamaian luar biasa ketika kita mampu berkontribusi tanpa harus terikat pada pujian manusia. Ketika kita memilih menjadi "akar", kita sedang membangun fondasi yang abadi. Kita mungkin tidak terlihat oleh mata manusia, tetapi kehadiran kita dirasakan melalui kekuatan dan kebahagiaan orang-orang di sekitar kita. Di akhir hari, yang terpenting bukanlah seberapa banyak orang yang mengenal nama kita, melainkan seberapa kuat kita menopang kehidupan di saat dunia sedang tidak baik-baik saja.

"Jadilah seperti akar, tulus di tempat yang gelap, tetap menguatkan meski tak disanjung, dan menjadi alasan bagi orang lain untuk terus tumbuh."

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.