Opini & Artikel

ETIKA MENCINTAI YANG TAK MENGHANCURKAN: BATAS DAN PENGHORMATAN DIRI

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Rabu, 12 Agustus 2026 | Dibaca 13 kali
Gambar ETIKA MENCINTAI YANG TAK MENGHANCURKAN: BATAS DAN PENGHORMATAN DIRI

Cinta kerap kali dirayakan sebagai puncak dari pengalaman emosional manusia. Ia digambarkan sebagai daya dorong yang menyatukan dua jiwa, melunakkan kerasnya ego dan memberikan makna pada keberadaan. Namun, di balik narasi-narasi romantis yang serba agung, cinta membawa paradoks yang berpotensi menjadi destruktif. Ketika atas nama kasih sayang seseorang membiarkan dirinya terkikis, kehilangan batas moral, hingga menanggalkan martabat personalnya, cinta telah bergeser dari sebuah keutamaan (virtue) menjadi bentuk perbudakan emosional.

Secara filosofis, persoalan ini berakar pada kaburnya batas antara mencintai dan melenyapkan diri. Dalam psikologi humanistik maupun pemikiran etika klasik, hubungan yang sehat berlandaskan pada keberadaan dua subjek yang saling menghargai autonomi. Namun, komodifikasi cinta di era modern sering kali mempromosikan doktrin penyerahan diri secara implisif, bahwa mencintai berarti memberikan segalanya tanpa sisa. Fenomena ini memicu apa yang bisa disebut sebagai “penghancuran terencana atas nama pengorbanan”. Seseorang merasa berbakti ketika terus-menerus menoleransi pemaksaan, ketidakadilan, atau bahkan manipulasi emosional demi mempertahankan suatu relasi.

Islam meluruskan disorientasi ini melalui kerangka pandang Al-Qur'an yang sangat presisi mengenai hakikat kasih sayang. Al-Qur’an tidak pernah memandang cinta sebagai ruang hampa tanpa hukum etika. Saat menggambarkan pondasi hubungan antarmanusia, terutama dalam hubungan yang paling intim, Al-Qur'an menggunakan istilah sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta yang terwujud dalam tindakan) dan rahmah (kasih sayang yang penuh empati) sebagaimana termaktub dalam Surah Ar-Rum ayat 21. Ketiga pilar ini bersifat membangun, bukan merusak. Sebuah relasi yang menghasilkan ketakutan, kecemasan sistematis, atau kehancuran martabat secara definitif telah keluar dari koridor rahmah.

Batas paling mendasar dalam etika mencintai menurut pandangan Qur'ani terletak pada penjagaan nafs (kehormatan dan jiwa diri) serta larangan berbuat zalim, baik menzalimi orang lain maupun menzalimi diri sendiri (Zulum Al-nafs). Al-Qur'an secara tegas mengingatkan manusia dalam penggalan Surah Al-Baqarah ayat 195: “...dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan.” Isyarat ayat ini menegaskan bahwa martabat kemanusiaan seorang hamba adalah amanah ilahi yang wajib dijaga. Mencintai orang lain hingga mengorbankan nilai-nilai kebenaran, prinsip moral dan kesehatan jiwa sendiri bukanlah bentuk kesetiaan, melainkan sebuah bentuk kezaliman spiritual.

Lebih jauh lagi, penghormatan diri (self-respect) dalam Islam berakar pada kesadaran akan tauhid. Ketika cinta kepada makhluk diekspresikan secara berlebihan hingga melampaui batas kewajaran, menciptakan ketergantungan mutlak di mana titah atau kehendak sang kekasih menggeser nilai-nilai kebenaran Ilahi, maka cinta tersebut telah bergeser menjadi penghambaan yang keliru. Al-Qur'an mensinyalir bahaya ini dalam Surah Al-Baqarah ayat 165, mengkritik mereka yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah dan “mencintainya sebagaimana mencintai Allah.” Cinta yang sehat adalah cinta yang terintegrasi di dalam cinta kepada Sang Pencipta, ia berjarak, memiliki batas dan mengikatkan diri pada etika keadilan.

Mengintegrasikan batas (boundaries) dalam relasi bukanlah tanda dari tiadanya ketulusan, melainkan syarat utama dari keberlanjutan cinta itu sendiri. Tanpa batas yang jelas, kasih sayang akan berubah menjadi dominasi di satu sisi dan penyerahan pasrah yang merusak di sisi lain. Menghormati diri sendiri berarti berani berkata “tidak” ketika sebuah relasi menuntut pelanggaran atas prinsip moral, merendahkan martabat, atau merusak kesejahteraan psikologis.

Pada akhirnya, etika mencintai yang membebaskan adalah tentang bagaimana hadir secara utuh bagi orang lain tanpa harus kehilangan diri sendiri. Cinta sejati dalam perspektif Islam bukanlah api yang membakar habis pelakunya hingga tak bersisa, melainkan cahaya yang menerangi jalan menuju kematangan jiwa. Dengan menetapkan batas dan menegakkan penghormatan diri, manusia tidak hanya menyelamatkan dirinya dari kehancuran, tetapi juga memuliakan hakikat cinta itu sendiri sebagai anugerah Ilahi yang luhur.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.