DIBALIK LAYAR PONSEL: MEMUDARNYA EMPATI KITA
Dulu, ketika kita melihat seseorang menangis di hadapan kita, ada dorongan instingtual untuk mendekat, merangkul, atau setidaknya terdiam sebagai bentuk rasa hormat. Namun hari ini, ketika penderitaan muncul di layar ponsel dalam format video berdurasi 15 detik, jempol kita lebih cepat melakukan scrolling daripada hati kita merasa tersentuh. Kita hidup di era di mana kita terkoneksi dengan semua orang, namun kehilangan koneksi dengan kemanusiaan itu sendiri. Apakah teknologi sedang membunuh empati kita?
Layar ponsel menciptakan jarak psikologis yang sangat lebar. Saat kita berkomunikasi tatap muka, kita melihat kerutan di dahi, nada suara yang bergetar, dan sorot mata. Elemen-elemen ini adalah pemicu alami empati. Di balik layar, manusia berubah menjadi sekedar barisan kata, atau angka statistik. Ketika seseorang dihujat di kolom komentar, kita sering lupa bahwa ada manusia nyata di sana yang bisa terluka. Di dunia digital, "orang lain" sering kali diperlakukan bukan sebagai subjek yang memiliki perasaan, melainkan sebagai objek untuk dikritik, diperdebatkan, atau sekedar dikonsumsi sebagai hiburan.
Setiap hari, kita dibombardir oleh ribuan informasi. Berita duka, bencana alam, konflik politik, hingga penderitaan pribadi dibagikan berdampingan dengan iklan diskon sepatu atau video kucing lucu. Algoritma mencampuradukkan emosi kita sedemikian rupa sehingga kita mengalami kelelahan empati (empathy fatigue). Karena saking banyaknya penderitaan yang kita lihat di layar, saraf emosional kita menjadi kebas. Kita kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang benar-benar membutuhkan empati mendalam dan mana yang sekedar lewat. Kita menjadi penonton pasif yang hanya mampu memberikan "like" sebagai pengganti kehadiran nyata.
Empati membutuhkan waktu. Ia membutuhkan jeda untuk merenung dan menempatkan diri di posisi orang lain. Namun, media sosial menuntut kecepatan. Kita dipaksa untuk segera berkomentar, segera menghakimi, dan segera berpindah ke tren berikutnya. Dalam kecepatan ini, kedalaman perasaan sering kali dikorbankan. Kita lebih sibuk mengetik "Turut berduka cita" sembari memikirkan apa yang akan kita unggah selanjutnya, tanpa benar-benar merasakan duka tersebut. Memulihkan empati bukan berarti kita harus membuang ponsel kita. Namun, kita perlu membangun kembali batas antara layar dan hati. Kita perlu sadar bahwa di balik setiap profil yang kita lihat, ada jiwa yang sama rapuhnya dengan kita.
Mungkin kita perlu belajar untuk meletakkan ponsel saat seseorang berbicara di depan kita. Mungkin kita perlu belajar untuk tidak berkomentar jika tidak bisa memberikan solusi, dan yang terpenting, kita perlu berhenti memandang penderitaan sebagai konten. Empati adalah perekat masyarakat (manusia). Jika kita membiarkan layar ponsel mengikisnya, maka yang tersisa hanyalah sekumpulan individu yang terhubung secara digital, namun benar-benar sendirian dan dingin di dunia nyata.