BUKAN SEKADAR SEREMONIAL: HAUL SEKUMPUL ADALAH CAHAYA MADRASAH AKHLAK
Haul Abah Guru Sekumpul (K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani) telah lama menjadi fenomena religi terbesar di Asia Tenggara. Jutaan orang berkumpul di Martapura bukan hanya untuk mendoakan, tetapi untuk "mereguk" tetesan ilmu dan keteladanan. Bagi mata awam, Haul Sekumpul mungkin terlihat seperti lautan manusia yang masif, sebuah logistik yang rumit dan kerumunan yang tak berujung. Namun, jika kita menyelam lebih dalam ke setiap sudut gang di Martapura, kita akan menemukan sebuah "Madrasah Akhlak" yang kurikulumnya tidak tertulis di buku, melainkan dipraktikkan langsung di lapangan.
Di mana lagi kita bisa melihat ribuan warga lokal membuka pintu rumah mereka lebar-lebar untuk orang asing?. Di sepanjang jalan menuju pusat kegiatan, makanan dan minuman dibagikan secara cuma-cuma. Ini bukan pamer kekayaan, melainkan manifestasi dari ajaran Abah Guru tentang kedermawanan. Haul ini mengajarkan bahwa memberi tidak akan membuat kita kekurangan. Ribuan relawan bekerja tanpa bayaran. Mereka mengatur lalu lintas di bawah terik matahari, memungut sampah agar lingkungan tetap bersih, hingga memasak dalam porsi raksasa. Inilah bentuk nyata dari khidmah, melayani sesama demi mengharap ridho Allah. Akhlak ini adalah "kurikulum" utama yang diajarkan lewat teladan sosok yang dihauli.
Di Haul Sekumpul, sekat-sekat sosial luruh. Pejabat duduk bersimpuh di samping buruh, orang kaya makan di piring yang sama dengan fakir miskin. Tidak ada protokol kemewahan yang memisahkan. Fenomena ini mendidik kita tentang tawadhu (rendah hati) dan bahwa di hadapan Sang Pencipta, yang membedakan hanyalah ketakwaan dan akhlak. Salah satu warisan terbesar Abah Guru Sekumpul adalah dakwah yang sejuk. Jutaan orang berkumpul tanpa ada kerusuhan dan tanpa ada ujaran kebencian. Madrasah ini mengajarkan bahwa cinta kepada ulama harus berbanding lurus dengan kasih sayang kepada sesama makhluk.
Menjadikan Haul Sekumpul sekadar seremoni adalah sebuah kerugian besar. Peristiwa ini adalah pengingat tahunan bagi kita semua untuk mengevaluasi diri: Sudahkah kita memiliki rasa peduli sesama? Sudahkah kita mampu menahan ego di tengah kerumunan?. Jika sepulang dari Sekumpul kita menjadi pribadi yang lebih sabar, lebih gemar bersedekah dan lebih santun dalam bertutur kata, maka kita telah lulus dari "Madrasah Akhlak" tersebut.
"Inti dari sebuah haul bukanlah seberapa megah acaranya, melainkan seberapa banyak jejak kebaikan sang guru yang mampu kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari."