Opini & Artikel

BERDAMAI DENGAN RASA SAKIT YANG TAK KUNJUNG USAI

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Jumat, 13 Pebruari 2026 | Dibaca 5 kali
Gambar BERDAMAI DENGAN RASA SAKIT YANG TAK KUNJUNG USAI

Dalam kamus medis, sembuh adalah tujuan akhir. Kita terbiasa dengan narasi linear, yaitu jatuh sakit, berobat, lalu kembali "normal". Namun, bagi jutaan orang yang hidup dengan penyakit kronis atau nyeri yang menetap (chronic pain), narasi tersebut terasa seperti janji palsu yang melelahkan. Stigma inilah yang membuat rasa sakit menjadi beban ganda. Kita tidak hanya bertarung melawan saraf yang berdenyut, tapi juga melawan ekspektasi dunia yang menuntut kita untuk selalu tampil prima. Di titik ini, kita perlu bertanya, bagaimana jika "sembuh" bukanlah sebuah opsi?

Rasa sakit yang tak kunjung usai bukan sekadar soal fisik. Ia adalah pencuri identitas. Ia merenggut produktivitas, mengaburkan konsentrasi dan sering kali mengisolasi penderitanya dari pergaulan sosial. Masyarakat sering kali memberikan standar ganda. Jika tidak terlihat pucat atau berdarah, maka rasa sakit dianggap sebagai keluhan belaka atau yang lebih menyakitkan dianggap sebagai masalah mental. Berdamai dengan rasa sakit sering kali disalahartikan sebagai sikap menyerah atau pesimisme. Padahal, dalam psikologi, penerimaan (acceptance) adalah bentuk keberanian tertinggi.

Berdamai berarti berhenti memusuhi tubuh sendiri. Selama ini, kita menganggap tubuh yang sakit sebagai "pengkhianat". Namun, terus-menerus berperang melawan diri sendiri hanya akan menghabiskan energi yang seharusnya bisa digunakan untuk bertahan hidup. Berdamai adalah upaya melakukan negosiasi ulang dengan kenyataan. Kita harus berhenti menunda kebahagiaan sampai rasa sakit itu hilang. Jika kita hanya akan bahagia saat tubuh 100% bugar, mungkin kita tidak akan pernah bahagia lagi. Berdamai artinya menemukan celah untuk tetap tertawa, berkarya dan mencintai di sela-sela denyut nyeri yang muncul. Ini adalah tentang kualitas hidup, bukan sekadar durasi hidup. Penyakit mungkin menguasai ruang di tubuh kita, tapi ia tidak boleh menguasai seluruh ruang di jiwa kita.

Pada akhirnya, kesehatan adalah hal yang rapuh dan fana. Rasa sakit yang tak kunjung usai mengajarkan kita satu hal yang tidak dipahami oleh mereka yang sehat, yaitu bahwa hidup ini sangat berharga justru karena keterbatasannya. Berdamai memang tidak menghilangkan rasa sakit secara ajaib, namun ia menghilangkan "penderitaan" atas rasa sakit tersebut. Kita mungkin berjalan dengan pincang, tapi kita tetap berjalan dan terkadang, tetap melangkah di tengah badai adalah kemenangan yang paling heroik.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.