Opini & Artikel

BAHAYANYA SELALU BAHAGIA: MENGGUGAT FENOMENA TOXIC POSITIVITY

Oleh: Mila Nur'aini, S.Pd | Selasa, 10 Februari 2026 | Dibaca 20 kali
Gambar BAHAYANYA SELALU BAHAGIA: MENGGUGAT FENOMENA TOXIC POSITIVITY

Di era media sosial saat ini, kita seolah dipaksa untuk selalu berada di puncak performa emosional. Biasanya di layar ponsel ada kutipan seperti "Good vibes only," "Jangan lupa bahagia," atau "Fokus saja pada hal positif." Sekilas, kalimat-kalimat ini terdengar seperti dukungan moral. Namun, jika ditelaah lebih dalam, ada bahaya laten yang mengintai di balik tuntutan untuk selalu bahagia, yaitu fenomena ini kita kenal sebagai Toxic Positivity. Toxic positivity adalah tekanan untuk tetap memiliki pandangan positif terlepas dari seberapa sulit atau menyakitkannya situasi yang sedang dihadapi. Ini adalah penolakan terhadap spektrum emosi manusia yang sah, seperti kesedihan, kemarahan dan kekecewaan. Masalahnya, ketika kita memaksakan kebahagiaan, kita sebenarnya sedang membangun sebuah penjara mental. Saat seseorang mengalami tragedi atau kegagalan, kalimat seperti "Ambil hikmahnya saja" bukan hanya tidak membantu, tetapi juga membungkam proses duka yang seharusnya dilalui secara alami.

Ada beberapa alasan mengapa tuntutan untuk selalu positif justru merusak kesehatan mental kita. Pertama, menekan emosi negatif tidak membuatnya hilang. Emosi tersebut hanya tersimpan di bawah sadar dan sering kali meledak di kemudian hari dalam bentuk kecemasan, depresi, atau bahkan gangguan fisik (psikosomatik). Kedua, ketika kita gagal merasa bahagia di tengah situasi sulit, kita cenderung menyalahkan diri sendiri. Kita merasa "kurang bersyukur" atau "lemah," padahal merasa sedih adalah respons biologis yang wajar. Ketiga, Toxic positivity membunuh koneksi antarmanusia. Saat teman kita bercerita tentang masalahnya dan kita merespons dengan "Sudahlah, yang penting kamu masih hidup," kita sebenarnya sedang menutup pintu empati dan membuat mereka merasa terisolasi.

Sudah saatnya kita menggugat standar kebahagiaan. Kita perlu menyadari bahwa kebahagiaan bukanlah sebuah kewajiban moral. Kita tidak berhutang senyuman kepada siapa pun saat dunia kita sedang runtuh. Alih-alih memaksakan positivity, yang kita butuhkan adalah validasi. Validasi berarti mengakui bahwa: "Ya, situasi ini sangat berat, dan tidak apa-apa jika aku merasa hancur saat ini." Hanya dengan mengakui kegelapan, kita bisa mencari jalan menuju cahaya dengan cara yang autentik, bukan dipaksakan. Hidup yang utuh bukanlah hidup yang isi harinya hanya tawa dan keceriaan. Hidup yang utuh adalah hidup yang merangkul seluruh spektrum rasa pahit, manis, getir dan indah. Berhenti menuntut diri sendiri untuk selalu bahagia. Terkadang, hal paling positif yang bisa kita lakukan adalah mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja.

 

Foto Mila Nur'aini, S.Pd
Mila Nur'aini, S.Pd

Penulis adalah Administrator pada MA Darul Ulum Palangka Raya.